Konservasi dan Pemanfaatan Kantong Semar (Nepenthes sp.) melalui Teknik Kultur Jaringan dan Koperasi HUTAN KAMAR (Hasil Usaha Tani Kantong Semar) berbasis Kearifan Lokal Kalimantan Barat

*ditulis oleh Irwin Septian (Juara II Lomba Esai Mahasiswa Se-Kalbar dengan tema Harapan dan Tantangan Konservasi Kantong Semar yang Terancam Punah)

Kantong Semar. Untuk beberapa orang mungkin nama ini tidak terlalu asing, namun tidak sedikit juga yang tidak tahu sekali tentang tanaman insektivora yang memiliki nama latin Nepenthes sp. ini, Bahkan mereka yang tidak tahu tersebut menyamakan nama tanaman ini dengan tokoh pewayangan Jawa yang terkenal yaitu, Semar. Memang benar mungkin nama tanaman ini diambil dari tokoh wayang semar karena perut semar yang agak gendut mirip dengan morfologi flora ini yang memiliki kantung pada ujung daunnya yang berfungsi sebagai “alat makan” nya Nepenthes sama seperti mulut pada manusia. Bedanya tanaman ini hanya mencerna serangga untuk mengambil unsur Nitrogen yang diperlukannya dalam sintesis protein, karena habitat Nepenthes memang berada pada daerah yang ‘miskin’ unsur Nitrogen. Di tengah era globalisasi saat ini masih  ada orang yang belum mengetahui tanaman ini baik itu manfaat, potensi, dan status perlindungan tanaman ini. Status tanaman kantong semar sendiri termasuk tanaman yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini sejalan dengan regulasi Convention on International Trade in Endangered Species (CITIES), dari 103 spesies kantong semar di dunia yang sudah dipublikasikan, 2 jenis: N. rajah dan N. khasiana masuk dalam kategori Appendix-1. Sisanya berada dalam kategori Appendix-2. Itu berarti segala bentuk kegiatan perdagangan sangat dibatasi.  

Saat ini kantong semar sendiri adalah tanaman endemik yang diambang kepunahan. Endemik karena hanya hidup di beberapa belahan dunia, yaitu hanya di Australia bagian utara, Cina Bagian Selatan, Pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Irian Jaya (Papua) dan sebagian kawasan Asia Tenggara, Nepenthes ini dikategorikan hampir punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Bayangkan saja, dari 103 spesies Nepenthes, 64 jenis diantaranya hidup di Indonesia, 32 jenis diketahui terdapat di Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) sebagai pusat penyebaran kantong semar. Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi. Keragaman jenis kantong semar di pulau lainnya belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum sepuluh jenis, Papua sembilan jenis, Maluku empat jenis, dan Jawa dua jenis.

Hal ini tentu menjadi kebanggaan dan sekaligus menjadi kewaspadaan kita bersama. Bangga karena sebagai orang yang tinggal di Pulau Kalimantan, kita tentu patut bersyukur Tuhan menciptakan alam Borneo dianugerahi fauna dan flora yang beraneka ragam dan pulau yang kita diami menjadi pusat dari kehidupan Nepenthes. Namun, disisi lain kita harus waspada karena sekarang terjadi pembalakan hutan secara liar besar-besaran di Hutan Borneo untuk dialihfungsikan menjadi lahan kelapa sawit. Ironis memang ditengah-tengah kampanye stop Illegal Logging oleh pemerintah, begitu pula derasnya para perusahaan-perusahaan kelapa sawit datang dengan mengantongi surat izin penebangan hutan dari pemerintah dan meluluhlantakkan isi hutan hujan tropis Kalimantan. Lantas bagaimana nasib Nepenthes dan teman-temannya ? seperti sekarang yang kita lihat jumlah Nepenthes untuk di Kalimantan Barat sendiri menurun drastis seiring dengan alih fungsi lahan oleh perusahaan, hal ini semakin diperparah dengan adanya jual beli Nepenthes oleh para Kolektor tanaman hias di seluruh dunia serta kurang pahamnya warga sekitar habitat Nepenthes sehingga terus menerus memanfaatkannya sebagai bahan pangan tanpa adanya budidaya.

Berbagai upaya kini tengah digencarkan pemerintah dalam upaya meregenerasi kembali spesies-spesies Nepenthes ini agar populasinya kembali normal dengan Pelestarian secara in-situ (Mendirikan cagar alam dan Taman Nasional di daerah sekitar habitat Nepenthes) juga secara ex-situ (Membuat Kebun Raya, Taman Flora namun bukan di habitat aslinya). Hasilnya, jumlah Nepenthes saat ini pun  masih ‘jalan di tempat’. Kali ini, saya menawarkan beberapa solusi yang mungkin bisa pemerintah terapkan dalam rangka konservasi tumbuhan unik nan langka ini, yaitu dengan menggunakan teknik kultur jaringan Nepenthes dan pembentukan koperasi hasil usaha tani Kantong Semar (Hutan Kamar).

Teknik Kultur Jaringan telah lama dikenal luas di kalangan akademisi, peneliti dan ahli botani sebagai perbanyakan massal  dalam rangka memperbanyak jumlah tumbuhan dengan mengambil sedikit jaringan pada bagian tertentu tumbuhan kemudian dikultur dalam suatu tabung. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak jenis tumbuhan tanpa memakan waktu dan biaya cukup lama. Teknik ini cukup berhasil dalam memperbanyak tumbuhan dengan memanfaatkan sifat Totipotensi pada tumbuhan yang memungkinkannya mereproduksi bagian tumbuhannya itu sendiri yang hilang mirip seperti fragmentasi pada Cacing Planaria sp., lantas pernahkah teknik ini diujicobakan pada Nepenthes sp.? Sejauh ini belum ada perbanyakan Nepenthes dengan teknik kultur jaringan. Oleh sebab itu langkah ini merupakan langkah yang paling tepat bagi kita dalam rangka meregenerasi kembali si Kantong Semar. Selain itu penulis juga menyarankan adanya pembentukan Koperasi Hutan Kamar sebagai upaya menyokong perbanyakan dan konservasi Nepenthes sp. selain memakmurkan anggotanya. Karena di dalam koperasi ini bukan simpan pinjam uang melainkan simpan pinjam Nepenthes.

Sudah kita ketahui bahwa suku-suku yang mendiami pulau kalimantan telah lebih dulu memanfaatkan Kantong Semar sebagai wadah untuk memasak nasi atau ketan (lemang), dan penggunaannya digunakan turun temurun oleh nenek moyang mereka. Tetapi, mereka hanya menggunakan jenis Kantong Semar yang populasinya masih banyak untuk dibikin lemang, tentu ini menarik mereka belum mengerti kepunahan tumbuhan, perlindungan tanaman namun mereka sudah melestarikan jenis Nepenthes tanpa mereka sadari. Inilah yang kita sebut sebagai kearifan lokal, mereka percaya bahwa jika mereka menjaga alam, maka alam akan menjaga mereka. Dengan adanya sifat kearifan lokal ini mereka tidak akan memetik sembarangan tumbuhan di hutan, tetapi mereka melihat dahulu bagaimana jumlahnya dan penyebarannya.

Sifat inilah yang patut dikembangkan, akan tetapi ancaman selalu saja ada baik itu dari dalam maupun dari luar. Nepenthes yang sebelumnya berstatus normal bisa saja menjadi terancam punah bila tumbuhan ini tidak kita jaga, adapun cara yang paling tepat yang bisa dilakukan saat ini adalah mendata jumlah spesies Nepenthes di Wilayah Kalimantan Barat kemudian membentuk kader-kader yang akan diterjunkan menjadi penyuluh pertanian Kantong Semar, dan mensosialisasikan kepada warga untuk membudidayakan Nepenthes yang jumlahnya masih banyak dan menjaga serta melestarikan Nepenthes yang terancam punah. Kenapa seperti itu ? karena Nepenthes yang terancam punah tidak bisa sembarangan diambil untuk dikembangbiakkan. Lalu Nepenthes yang akan dibudidayakan diberikan bibitnya 3 pot setiap rumah. Koperasi Hutan Kamar ini akan memantau perkembangan jumlah tanaman Nepenthes setiap rumah. Apabila sudah dianggap mandiri maka mereka wajib mengembalikan bibit tersebut di alam, lalu mengembangbiakkan turunan yang mereka peroleh. Hasilnya dapat langsung dinikmati oleh petani baik itu dijual per-potnya, dimanfaatkan kantungnya untuk membuat berbagai olahan makanan atau sekedar membantu pemerintah dalam upaya perbanyakan kantong semar. Model pengembangan koperasi seperti ini sudah banyak berhasil dilakukan pada hewan ternak lokal seperti sapi dan ayam. Untuk Nepenthes yang endemik sebisa mungkin kita kembalikan jumlahnya seperti semula dan tidak lagi terancam punah baik itu menggunakan pelestarian in-situ & ex-situ, atau mencoba teknik kultur jaringan agar bibit tumbuhan ini dapat diperbanyak dahulu baru bila jumlahnya memungkinkan untuk dibudidayakan baru dapat diambil.

Pada akhirnya, berhasil atau tidaknya jalan yang kita tempuh bergantung pada usaha yang kita lakukan, Nasib Nepenthes ada di tangan kita, jangan biarkan mereka punah selagi kita masih bisa menjaganya, jangan biarkan ekosistem kita tergganggu oleh tangan umat manusia yang tidak bertanggungjawab merusak Tanah Borneo kita.

Salam Lestari !

Salam Konservasi !

(Lomba Esai ini diselenggarakan pada bulan Agustus – September 2012 dan memperoleh dukungan finansial dari the Rufford Small Grant Foundation)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s