Harapan dan Tantangan Konservasi Kantong Semar yang Terancam Punah: Make the ‘Killer’ Stay Alive

*ditulis oleh Silvie Kurniasari (Juara III Lomba Esai Mahasiswa Se-Kalbar dengan tema Harapan dan Tantangan Konservasi Kantong Semar yang Terancam Punah)

 

Saya:   “Bu, kantong semar tuh apa sih?”

Ibu:      “Kantong semar itu tumbuhan yang bisa makan daging.”

Saya:   “Hah? Berarti kalo deket-deket, kita bisa dimakan juga?”

Ibu:      “Dagingnya daging serangga. Tapi coba aja kalo mau ngetes masukin tangan ke dalamnya…”

(Percakapan masa kecil bersama Ibu. Benar-benar terjadi…hihihi)

 

Kantong semar. Apa itu kantong semar? Dari percakapan masa kecil di atas, sejak saat itu saya langsung berpikiran kalau kantong semar itu tanaman yang jahat karena memakan serangga tak berdosa. Yaa…maklum masih anak-anak. Seiring waktu, pengetahuan saya semakin bertambah dan banyak sekali informasi yang saya dapatkan tentang kantong semar. Nah, mari kita berkenalan dengan ‘tanaman jahat’ yang satu ini. Kantong semar atau nama ilmiahnya Nepenthes sp. pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne pada tahun 1689 di Indonesia. Kantong semar termasuk dalam kingdom Plantae, tapi yang satu ini bukan tumbuhan biasa. Kantong semar tergolong dalam tumbuhan karnivora atau ada juga yang menyebutnya tumbuhan insektivora. Mengapa? Karena tumbuhan ini memiliki organ berupa kantong yang berfungsi sebagai perangkap serangga dan hewan-hewan kecil. Kantong yang merupakan modifikasi daun ini berisi cairan yang mengandung ion-ion positif sehingga ber-pH asam, juga mengandung enzim proteolase, enzim kitinase, serta mikroorganisme dekomposer yang berguna untuk mencerna serangga.(1) Habitat alami Nepenthes relatif bervariasi, seperti hutan hujan tropis dataran rendah, hutan kerangas, hutan rawa gambut, hutan pegunungan, gunung kapur dan padang savana. Jenis-jenis Nepenthes tertentu mampu tumbuh pada habitat dengan kondisi lingkungan yang tidak umum, seperti dinding-dinding bukit.(2) Kondisi-kondisi yang ekstrim pada habitat tertentu inilah yang menyebabkan kantong semar memangsa serangga, yaitu untuk membantu mencukupi kebutuhan nutrisi yang mungkin tidak didapat dari habitat alaminya. Kantong pada Nepenthes memiliki bentuk, warna, serta corak yang bervariasi antara satu dengan lainnya, oleh sebab itu tumbuhan ini dinamai kantong semar. Lantas, apa hubungan kantong semar dengan konservasi? Untuk diketahui, kantong semar termasuk dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) Appendix 1 dan Appendix 2, dikategorikan sebagai tanaman langka dan hampir punah. Sebagai manusia secara harfiahnya dan sebagai mahasiswa Biologi terlebih khususnya, saya merasa sudah seharusnya memberi suatu kontribusi kepada alam agar tetap lestari, dan kontribusi saya untuk saat ini berupa gagasan tentang harapan serta tantangan dalam usaha konservasi kantong semar.

Banyak hal yang melatarbelakangi kelangkaan kantong semar, di antaranya kebakaran hutan, penebangan kayu secara eksploitatif, pengembangan pemukiman, pertanian, perkebunan serta eksploitasi yang berlebihan untuk tujuan komersil. Suatu upaya konservasi yang efektif sangat diperlukan untuk menyelamatkan Nepenthes dari kepunahan. Namun sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu diri kita harus memiliki kesadaran dan niat tulus untuk menjaga kelestarian alam, terutama di negeri sendiri. Mengapa demikian? Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih berorientasi pada usaha-usaha pencukupan kebutuhan pribadi, atau secara kasarnya masih berparadigma “Urus perut dulu baru otak, yang penting cukup uang untuk makan dan beli ini-itu”. Berbeda dengan masyarakat di negara-negara yang sudah mencapai taraf kemakmuran tinggi, rata-rata mereka telah memiliki kepedulian yang besar untuk turut ‘memakmurkan’ makhluk hidup lain, seperti hewan dan tumbuhan. Waktu, tenaga, materi rela mereka korbankan demi kelestarian alam. Bukan maksud saya merendahkan Indonesia, namun memang demikianlah kenyataannya. Usaha konservasi sekeras apapun mungkin tidak akan pernah berhasil jika tidak terlebih dahulu didukung oleh rasa peduli terhadap sesama makhluk hidup dan alam tempat tinggal kita. Lantas, jika misalnya rasa kepedulian baru bisa mucul setelah kemakmuran hidup tercapai, bagaimana menanamkan kepedulian itu pada masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya makmur? Inilah sebenarnya tantangan utama usaha-usaha konservasi alam, dalam hal ini konservasi Nepenthes. Di Indonesia, Nepenthes dieksploitasi dari habitat aslinya untuk dikomersilkan sebagai tanaman hias eksotis dengan nilai ekonomis  tinggi. Status perlindungan Nepenthes di Indonesia sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta dalam Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, namun demikian masih ada saja oknum-oknum kebal hukum. Mereka mungkin sudah tahu tentang status perlindungan Nepenthes yang berkekuatan hukum, namun iming-iming keuntungan besar dengan tujuan mencapai kemakmuran membuat mereka tetap nekad dan mengabaikan peraturan. Bukankah peraturan dibuat untuk dilanggar? Ya, hanya Indonesia yang punya tagline se-‘unik’ itu. Banyak aspek memang yang harus dibenahi. Indonesia berbangga dengan sebutan “negara hukum”nya, tapi realita yang terjadi, hukum di Indonesia belum terlalu kuat dan tegas untuk membentuk kesadaran serta kedisiplinan rakyatnya. Kemudian seperti yang saya singgung di atas, masalah kemakmuran. Akankah kita benar-benar bisa peduli ketika sudah makmur? Bagaimana dengan koruptor-koruptor yang sibuk meng-kaya-kan diri mereka sendiri? Mereka sudah terhitung makmur (walau dari hasil korupsi), namun adakah mereka menyisakan rasa peduli untuk alam? Saya rasa tidak. Mereka terlalu sibuk dalam usaha-usaha memperkaya dan memakmurkan diri sendiri tanpa sempat berpikir untuk peduli dengan alam, justru alam semakin dieksploitasi untuk memuaskan dahaga mereka akan materi. Ketika sanksi hukum menegur, mereka yang mengaku berkuasa itu akan memanipulasi keadaan, memutarbalikkan fakta sehingga hukum yang telah diatur sedemikian rupa pun bisa dengan mudah melunak dan justru mengalah kepada yang bersalah. Jadi menurut saya, sebelum upaya utama konservasi dilaksanakan, terlebih dahulu harus ada sinergi yang baik antara pemerintah dengan rakyatnya. Rakyat Indonesia saat ini mungkin sudah lebih cerdas daripada pemimpinnya, namun demikian, peran pemimpin tetap dibutuhkan untuk mempersatukan kekuatan bangsa. Ketika para pemimpin sudah mampu menunjukkan kualitas ideal sebagai pemimpin, saya percaya rakyat pun akan segan dan secara tidak langsung meneladani pemimpinnya. Ketika para pemimpin sudah mampu memiliki kesadaran hukum yang baik, rakyat tentu juga akan mengikutinya.

Tantangan lain yang menurut saya sangat krusial dalam usaha konservasi Nepenthes adalah, bagaimana menumbuhkan rasa cinta kepada alam itu sendiri? Bagaimana memiliki kesadaran pribadi untuk menjaga kelestarian alam tanpa harus merasa ditakut-takuti oleh peraturan dan sanksi hukum? Nah, untuk diketahui lagi, berbagai macam variasi dan spesies dari Nepenthes yang saat ini dikenal di dunia luar, sebagian besar berasal dari bumi Indonesia. Usaha-usaha konservasi dan budidaya beberapa jenis Nepenthes secara ex-situ yang banyak dilakukan oleh negara-negara asing, pada mulanya mengambil contoh Nepenthes dari habitat aslinya di Indonesia. Ironis bukan? Kita punya, tapi tidak kita jaga dengan bijak. Tuhan memberi kita negeri bernama Indonesia, tapi tidak kita syukuri dan manfaatkan dengan cara yang baik. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?(3) Saya mungkin tidak mengajak untuk menjadi seorang yang religius supaya dapat mencintai alam, karena masalah keagamaan merupakan urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Namun ingatlah, atas tujuan apa kita diciptakan ke dunia ini? Apa tugas dan kewajiban kita sebagai manusia di bumi? Ya, untuk menjadi berguna bagi manusia dan makhluk hidup yang lain, serta menjaga bumi tempat tinggal kita dari kerusakan-kerusakan. Mungkin terlalu lama jika kita baru memulai sekarang sementara keadaan bumi sudah tidak se-ramah dulu, namun tidak pernah ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik. Mulailah menanamkan, memupuk dan menyuburkan rasa cinta kepada alam itu dalam diri kita. Saya ingin bersimulasi sedikit. Di salah satu kota di Indonesia, tepatnya kota Sintang di provinsi Kalimantan Barat, terdapat bukit yang bernama Bukit Kelam. Di bukit ini, ditemukan satu spesies Nepenthes yang unik sekaligus sangat langka, bernama Nepenthes clipeata. Spesies ini terdaftar dalam Red List International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dengan status critically endangered atau terancam punah. Tahukah anda? Ternyata, spesies ini juga memiliki endemisitas tinggi, yaitu hanya dapat ditemukan di Bukit Kelam. Nah, akankah kita rela, jika suatu hari nanti Nepenthes clipeata yang merupakan flora endemik Indonesia tak dapat dijumpai lagi di Bukit Kelam? Kemudian, ada negara lain yang berhasil membudidayakan Nepenthes clipeata secara ex-situ, lalu memperkenalkan Nepenthes clipeata sebagai flora asal negaranya? Haruskah ada yang mengklaim terlebih dahulu baru kita sibuk mengakui kalau itu sebenarnya milik kita?  Please think again. Sudah terlalu sering terjadi seperti itu. Kepunahan Nepenthes clipeata bahkan mungkin spesies-spesies Nepenthes lainnya tidak akan menjadi hal yang mustahil jika kita tetap tak berkepedulian untuk menjaga dan melakukan usaha-usaha konservasi untuk melestarikannya. Ingatlah, kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu ketika kita kehilangannya. Jadi sebelum kehilangan, mari kita berikan usaha terbaik kita untuk menjaga dan menyelamatkan Nepenthes dari kepunahan.

Begitu besar harapan saya untuk terwujudkannya hal-hal di atas. Kelak jika hukum di Indonesia sudah benar-benar ditegakkan, rakyat dan pemerintah sudah memiliki kesadaran diri serta mampu bersinergi dengan baik, saya percaya tidak hanya usaha konservasi Nepenthes yang dapat berlangsung lancar, usaha konservasi untuk tumbuhan maupun hewan lain juga pasti bisa berjalan beriringan. Oh ya, bagaimana dengan tingginya biaya konservasi? Saya yakin bisa diatasi jika para koruptor di negeri ini akhirnya sudah bosan korupsi, alih-alih, mereka mengusahakan pengalokasian dana khusus yang non-korupsi untuk usaha konservasi alam. Akankah kita menjadi rugi karena melakukan konservasi yang biayanya tidak sedikit? Bukankah lebih baik menyelesaikan masalah-masalah krusial negeri terlebih dahulu baru kemudian memikirkan konservasi? Hmm…tidak juga. Saya optimis, hasil dari konservasi itu sendiri justru dapat membantu menambah devisa negara. Bayangkan ketika kita berhasil membudidayakan dan memperbanyak Nepenthes dengan teknik kutur jaringan tanpa mengeksploitasi langsung di habitat aslinya, kemudian Nepenthes hasil budidaya itu diekspor keluar negeri sebagai tanaman hias; atau mungkin kita memiliki sebuah cagar alam dan suaka margasatwa untuk flora serta fauna langka maupun endemik yang kemudian dikembangkan sebagai tempat pariwisata, secara tidak langsung semua itu bisa menambah pemasukan negara sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Saya selalu yakin bahwa kita mampu jika kita bersatu. Saya optimis Indonesia bisa maju menuju perubahan yang lebih baik. Ingat, tantangan bukan rintangan, dan apapun yang terjadi, kita akan selalu mempunyai harapan. Mungkin berhalaman-halaman tulisan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan jika saya berkontribusi lewat sebuah aksi langsung, namun percayalah, dari yang tidak ada apa-apanya kelak akan menjadi sesuatu yang berarti…from nothing to something.

LET’S SAVE NEPENTHES, MAKE THE ‘KILLER’ STAY ALIVE!

(Lomba Esai ini diselenggarakan pada bulan Agustus – September 2012 dan memperoleh dukungan finansial dari the Rufford Small Grant Foundation)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s