Membangun Apresiasi terhadap Keanekaragaman Hayati

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendeklarasikan tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati dimana “biodiversity is life, biodiversity is our life” menjadi tema yang diusung. Pendeklarasian tersebut menandai keseriusan dunia untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dari kepunahan. Pencanangan tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati memiliki nilai yang sangat penting bagi Indonesia. Hal ini karena Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia. Tidak hanya itu, tingkat endemisitas keanekaragaman hayati di Indonesia juga tergolong tinggi di dunia. Penyebaran habitat alami kantong semar Nepenthes clipeata, misalnya, hanya terbatas di Kota Sintang, Kalimantan Barat. Keberadaan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di hutan hujan tropis Sumatera juga menunjukkan bahwa beberapa fauna di Indonesia memiliki karakteristik endemisitas yang tinggi. Meskipun demikian, keanekaragaman hayati di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir semakin terancam keberadaannya. Tingginya laju deforestasi yang dibarengi dengan pemungutan, perburuan dan perdagangan tidak sah tumbuhan dan satwa liar telah membuat populasi jenis tumbuhan dan satwa liar tertentu semakin merosot, dan bahkan ada yang berada di ambang kepunahan.

Keberadaan keanekaragaman hayati di Indonesia seringkali hanya dilihat dalam perspektif ekonomi saja, sedangkan nilai-nilai lain termasuk nilai konservasinya belum sepenuhnya mendapat perhatian. Situasi tersebut akhirnya memicu pemikiran singkat untuk memanfaatkan semaksimal mungkin keanekaragaman hayati yang dimiliki untuk meraup penghasilan yang tinggi tanpa memperhitungkan prinsip-prinsip keberlanjutan. Akibatnya sudah tentu dapat kita prediksi. Jika kemampuan reproduksi suatu jenis satwa liar tergolong rendah dan tidak sebanding dengan tingginya pemanfaatan langsung yang diperoleh dari alam, sudah dapat dipastikan ancaman kepunahan akan membayangi satwa liar tersebut. Konsep ini juga berlaku untuk tumbuhan liar maupun organisme lainnya yang juga merupakan komponen penting dalam keanekaragaman hayati. Fakta yang disebutkan di atas merupakan manifestasi dari kegagalan dalam melihat nilai konservasi yang terkandung di dalam keanekaragaman hayati. Kegagalan ini lahir dari rendahnya apresiasi terhadap nilai dan peran keanekaragaman hayati dalam kehidupan manusia.

Keanekaragaman hayati sesungguhnya memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana yang tersurat dalam tema Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati di atas: “biodiversity is our life”. Nasi dan roti yang kita konsumsi, misalnya, bersumber dari bahan-bahan yang diperoleh dari tanaman yang dahulunya merupakan tumbuhan liar di hutan. Berbagai jenis ikan konsumsi, baik yang didapat dari sungai maupun laut, juga memperkaya asupan makanan yang kita nikmati sehari-hari. Peran satwa liar dalam kehidupan manusia pun begitu nyata. Burung dan lebah, contohnya, terlibat dalam penyerbukan tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit dan kopi. Sayangnya, nilai dan peran keanekaragaman hayati dalam kehidupan manusia sering dianggap tidak penting. Kenyataan bahwa keanekaragaman hayati adalah milik publik yang perlu dipertahankan keberadaannya bagi keberlanjutan umat manusia juga terkadang tidak diperdulikan.

Kegagalan dalam melihat nilai-nilai keanekaragaman hayati dalam berbagai perspektif termasuk nilai konservasinya sesungguhnya dapat diantisipasi sejak dini. Peran dunia pendidikan dalam menanamkan nilai penting keanekaragaman hayati merupakan salah satu pendekatan yang mungkin dilakukan. Pendidikan dalam konteks ini sebaiknya tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah namun juga dimulai dari dalam keluarga dan masyarakat. Pengenalan berbagai jenis tumbuhan dan satwa kepada anak-anak yang dimulai sejak dini diharapkan dapat membangun kesadaran dan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai keanekaragaman hayati termasuk fakta bahwa keanekaragaman hayati adalah milik publik yang harus dipertahankan. Selain itu, peran tokoh dan pemuka agama dalam menyiarkan konservasi dalam perspektif agama juga tidak kalah pentingnya. Di dalam ajaran Islam, misalnya, manusia adalah khalifah atau pemimpin yang berperan untuk menjaga ciptaan-ciptaan Allah karena kemampuan yang umat manusia miliki, seperti kemampuan berpikir. Larangan untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi juga merupakan bagian penting dari ajaran Islam terkait konservasi.

Keberadaan berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar serta organisme lainnya memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia. Jika kita hanya mementingkan sisi pemanfaatannya saja dan tidak memperdulikan fakta bahwa kekayaan hayati yang ada bersifat terbatas dan milik publik, bukan tidak mungkin keanekaragaman hayati yang kita miliki akan jatuh ke jurang kepunahan. Hanya manusia yang dapat menolong bumi dan seisinya dari kerusakan dan kepunahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s