Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati

SALAH satu isu penting yang mendapat perhatian dunia saat ini adalah kerusakan lingkungan yang berpotensi menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Tingginya tingkat deforestasi khususnya pada daerah dataran rendah adalah salah satu contoh nyata dari kerusakan lingkungan tersebut. Deforestasi yang mencapai tingkat mengkhawatirkan sangat mengancam keberadaan keanekaragaman hayati yang merupakan satu kesatuan yang utuh dari suatu ekosistem. Para ahli ekologi dan biologi konservasi telah membuktikan bahwa setiap komponen hayati dalam suatu ekosistem (misalnya: hutan hujan tropis) memiliki peran yang vital dan saling berhubungan dengan komponen lainnya di dalam ekosistem tersebut. Orangutan, misalnya, berperan dalam mempertahankan keutuhan ekosistem hutan hujan tropis sebagai agen penyebar biji. Berbagai jenis tumbuhan juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam suatu ekosistem. Menyediakan habitat penting bagi jenis-jenis burung air dan tempat perkembangbiakan ikan merupakan sebagian peran tumbuhan bakau dalam ekosistem mangrove.

Berbagai strategi konservasi telah diadopsi untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati. Salah satunya adalah penetapan kawasan hutan sebagai kawasan konservasi atau kawasan lindung. Prof. Navjot S.Sodhi dan koleganya Prof. Barry W Brook dan Prof. Corey J.A. Bradshaw dalam buku mereka “Tropical Conservation Biology” bahkan menegaskan bahwa pembentukan kawasan konservasi atau kawasan lindung merupakan sebuah harapan besar bagi konservasi keanekaragaman hayati.

Pemerintah Indonesia telah menunjuk dan menetapkan sejumlah kawasan hutan sebagai kawasan konservasi (contoh: taman nasional, cagar alam, taman wisata alam) dan hutan lindung. Penunjukan dan penetapan kawasan hutan sebagai kawasan konservasi dan hutan lindung tersebut telah mempertimbangkan berbagai faktor termasuk karakteristik dari masing-masing areal berhutan, seperti keterwakilan berbagai ekosistem, keberadaan satwa dan tumbuhan liar tertentu yang terancam punah dan bentang alam yang menakjubkan. Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), misalnya, menyimpan potensi beberapa jenis satwa yang terancam punah (contoh: orangutan dan tarsius) dan ratusan sungai kecil dan besar yang berperan penting dalam sistem hidrologi di Kalimantan Barat. Contoh lainnya adalah Cagar Alam Muara Kendawangan yang terletak di bagian selatan Provinsi Kalimantan Barat. Cagar alam ini memiliki perwakilan ekosistem mangrove dan hutan hujan dataran rendah serta merupakan habitat penting untuk bekantan, salah satu jenis primata yang dilindungi oleh undang-undang.

Sayangnya, walaupun menyandang status kawasan lindung, kawasan konservasi atau hutan lindung tidak lepas dari berbagai ancaman yang dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Fenomena penebangan, perambahan dan penambangan liar di dalam taman nasional merupakan contoh yang sangat nyata, dan sering dihadapi oleh pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung. Situasi yang dihadapi oleh pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung tersebut sudah selayaknya mendapat perhatian serius dari semua pihak termasuk pengelola kawasan itu sendiri, pemerintah daerah, organisasi yang bergerak di bidang konservasi alam dan masyarakat sekitar hutan. Hal ini sangat penting karena dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari kerusakan yang terjadi di dalam kawasan konservasi atau hutan lindung tidak hanya bersifat lokal namun berdampak global. Punahnya jenis-jenis endemik tertentu, berkembangnya krisis pangan dan air, serta terganggunya kehidupan sebagian masyarakat yang bergantung kepada keberlanjutan kawasan hutan merupakan sebagian kecil kerugian yang mungkin kita hadapi dimasa yang akan datang jika kawasan konservasi atau hutan lindung tidak kita pertahankan keutuhannya.

Kolaborasi semua pihak dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung mempunyai nilai yang strategis. Situasi tersebut memungkinkan pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung untuk menyelesaikan permasalahan secara terpadu. Akan tetapi, kerjasama yang dibangun tersebut bukan lah proses yang sederhana. Komitmen yang kuat dan kesadaran semua pihak untuk mempertahankan keanekaragaman hayati merupakan pondasi yang dibutuhkan untuk membangun kerjasama tersebut.

Keanekaragaman hayati yang kita miliki telah memberikan kontribusi yang nyata dalam kehidupan kita. Terjaminnya ketersediaan air, sumber plasma nutfah yang penting bagi ketahanan pangan, bank tumbuhan yang berkhasiat obat merupakan sebagian kontribusi sumber daya alam hayati yang dapat kita rasakan. Keberadaan kawasan konservasi dan hutan lindung memiliki fungsi yang fundamental dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, mempertahankan keutuhan kawasan konservasi dan hutan lindung menjadi sangat penting bagi penyelamatan keanekaragaman hayati. Kawasan konservasi dan hutan lindung merupakan “benteng terakhir” bagi semua komponen keanekaragaman hayati untuk berlindung dari kerasnya deru kerusakan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s