Jantung Borneo dan Masa Depan Kalbar

logo

Pontianak Post, Selasa 1 Desember 2009

CURITIBA, sebuah kota di bagian tenggara Brasil, merupakan kota yang sangat penting dalam sejarah pelestarian alam di Pulau Borneo. Di kota yang terletak di daerah dataran tinggi ini, inisiasi program penyelamatan rimba belantara di pedalaman Pulau Borneo dicanangkan untuk pertama kalinya pada “Convention on Biological Diversity” tahun 2006. Program penyelamatan kawasan hutan di pedalaman Borneo itu selanjutnya dikenal dengan nama “Heart of Borneo” Initiative yang dideklarasikan oleh tiga Negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusslam. Agenda utama dari program Jantung Borneo atau “Heart of Borneo” adalah untuk menyatukan visi konservasi ketiga negara tersebut dalam mempertahankan rimba belantara di pedalaman Pulau Borneo untuk kesejahteraan generasi saat ini dan yang akan datang.

Program Jantung Borneo dilatarbelakangi oleh semangat untuk menjaga agar hutan di pedalaman Pulau Borneo tetap bertahan di atas sejumlah tekanan, seperti penebangan dan perambahan liar serta perubahan fungsi hutan. Dalam periode sepuluh dekade terakhir, kawasan hutan di Pulau Borneo menghadapi tekanan yang telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Akibatnya, tutupan hutan, khususnya di daerah dataran rendah, semakin berkurang. Sementara itu, kawasan berhutan di daerah yang lebih tinggi dan sangat sulit untuk dicapai masih bisa bertahan walaupun ancaman terhadap kawasan tersebut cukup tinggi. Hutan di pedalaman Pulau Borneo atau yang dikenal dengan Jantung Borneo itulah yang ingin dipertahankan oleh tiga negara yang disebutkan terdahulu.

Jantung Borneo memiliki luas 22 juta hektar yang sebagian besar berupa hutan pegunungan yang terletak di bagian tengah Pulau Borneo. 57,2% wilayah Jantung Borneo berada di Indonesia (Kalimantan) sedangkan 42% dan 0,6% dari kawasan Jantung Borneo dimiliki masing-masing oleh Malaysia dan Brunei Darussalam. Di Jantung Borneo, khususnya di Kalimantan, terhampar 4 taman nasional dimana tiga dari empat taman nasional tersebut berada di Kalimantan Barat. Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) adalah ketiga taman nasional dimaksud. Masing-masing taman nasional tersebut memiliki karakteristik ekosistem yang unik. TNBK, misalnya, memiliki ratusan sungai-sungai kecil dan besar yang merupakan bagian kompleks dari Sungai Kapuas. Serupa dengan TNBK, TNBBBR merupakan salah satu perwakilan hutan hujan tropika pegunungan di Indonesia yang menyimpan potensi sumber daya alam hayati yang tinggi, seperti orang-utan dan kantong semar Nepenthes ephippiata.

Jantung Borneo telah memberikan kontribusi yang nyata bagi kehidupan baik masyarakat lokal sekitar kawasan maupun regional. Rimba belantara Jantung Borneo merupakan daerah tangkapan air yang menjamin ketersediaan air bagi masyarakat di Kalimantan Barat. Seperti disampaikan terdahulu, ratusan sungai di TNBK memiliki peran penting dalam sistem hidrologi Sungai Kapuas. Seandainya saja kawasan hutan yang merupakan daerah tangkapan air berubah fungsi menjadi kawasan lain dengan fungsi non-kehutanan (contoh: pertambangan dan pemukiman), sungai-sungai yang menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pasti tidak akan mampu lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Layaknya jantung dengan fungsi sebagai penyuplai oksigen bagi jutaan sel-sel di tubuh kita, Jantung Borneo juga menyuplai oksigen tidak hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga regional bahkan global. Selain itu, Jantung Borneo juga memiliki nilai strategis dalam kehidupan masyarakat lokal yang masih bergantung kepada ketersediaan sumber daya alam hayati. Petani-petani madu di Kapuas Hulu, misalnya, mampu menghasilkan madu berton-ton setiap tahunnya dari areal kawasan hutan TNDS melalui pengumpulan madu. Produk madu TNDS bahkan telah memperoleh Sertifikat Sistem Pangan Organik dari BIOcert, sebuah lembaga sertifikasi dan inspeksi produk pertanian organik, ramah lingkungan dan ramah sosial di Indonesia. Beberapa hal yang telah disebutkan diatas, hanyalah sebagian dari kontribusi Jantung Borneo bagi kehidupan. Sumber plasma nutfah, pengatur iklim global, obyek daya tarik wisata termasuk beberapa kontribusi Jantung Borneo lainnya yang mempunyai peran penting dalam kehidupan kita.

Kesinambungan kontribusi Jantung Borneo bagi kehidupan untuk saat sekarang ini dan yang akan datang sangat bergantung pada kesadaran semua pihak untuk berpartisipasi dalam mempertahankan kawasan hutan dan sumber daya alam hayati yang terkandung didalamnya. Selain itu, komitmen verbal saja tidak cukup untuk menyelamatkan Jantung Borneo dari “serangan jantung”, seperti penebangan dan perambahan liar. Upaya nyata pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan mutlak diperlukan. Kerja-kerja konservasi di atas hanya dapat terwujud jika para pihak (pengelola taman nasional, pemerintah daerah, masyarakat dan LSM) bekerjasama dan saling melengkapi satu sama lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s