Taman Nasional Kutai, Layakkah Dipertahankan?

Pertanyaan pada judul yang tertera di atas terinspirasi dari sebuah tulisan yang dimuat di Harian Tribun Kaltim pada hari Kamis, 12 Juli 2007: Taman Nasional Kutai (TNK) tidak layak dipertahankan. Di artikel itu terkuak wacana untuk meninjau kembali dan memetakan ulang luas TNK serta keinginan untuk menghapus TNK dari peta Kalimantan Timur. Wacana ini mungkin berawal dari keraguan akan potensi yang masih dimiliki TNK dan anggapan bahwa permasalahan TNK terlalu kompleks dan tidak dapat diselesaikan kecuali dengan memetakan kembali atau bahkan menghapusnya dari peta. Tapi, apakah benar TNK sudah tidak layak dipertahankan atau sebaliknya TNK sangat layak untuk dipertahankan?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita tidak bisa hanya melihat sepenggal fakta dilapangan bahwa sebagian kawasan hutan di sekitar jalan Bontang-Sengata habis dirambah, terdapat pemukiman dibeberapa lokasi di sepanjang jalan poros tersebut, dan pembalakan liar yang terjadi di dalam kawasan. Hal ini karena (1) sebenarnya TNK masih memiliki hutan dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa yang selama ini belum banyak dipublikasikan di media massa, (2) pemukiman di dalam kawasan yang telah diakui legalitasnya oleh pemerintah baik pusat maupun daerah sebenarnya berpotensi untuk membantu menjaga kelestarian hutan alam jika para pemukim tersebut memiliki motivasi dan keinginan yang kuat, dan (3) pengelola TNK sudah berupaya maksimal untuk menghentikan pembalakan liar yang terjadi selama ini dengan berbagai strategi dan pendekatan. Oleh karena itu, salah satu pendekatan yang tepat untuk menjawab pertanyaan tentang layak atau tidaknya TNK dipertahankan sebenarnya adalah dengan melihat potensi keanekaragaman hayati yang masih terkandung didalamnya dan jasa lingkungan yang disediakan oleh hutan TNK.

Areal hutan TNK sebenarnya memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi walaupun pernah mengalami kebakaran hutan di sebagian besar kawasannya. Setelah kebakaran hutan di tahun 1982 dan 1983, misalnya, beberapa pakar ahli tumbuhan dan satwa melakukan pengamatan dan kajian untuk melihat dampak dari kebakaran. Hasilnya menunjukkan bahwa berbagai jenis tumbuhan, seperti pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) dan meranti (Shorea leprosula), mampu bertahan dari kebakaran (Miyagi et al, 1988)dan masih dapat dijumpai sampai saat ini. Satwa-satwa yang ada juga mampu selamat dari kebakaran yang disebabkan oleh musim kemarau yang berkepanjangan. Pada tahun 1986 peneliti dari Jepang membuktikan hal tersebut melalui perjumpaan langsung terhadap mamalia besar yang ada di TNK, seperti orangutan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), banteng (Bos javanicus), tenggalong/civet (Viverra tangalunga), kucing dahan (Felis bengalensis) dan rusa sambar (Cervus unicolor). Indikasi keberadaan beruang madu yang merupakan satwa penting di TNK juga diketahui melalui bekas cakaran di batang-batang pohon pada pengamatan tahun 1986 itu (Doi, 1988)  Sebagian dari satwa yang telah disebutkan di atas sampai saat ini masih bisa dijumpai baik secara langsung maupun melalui tanda atau jejak yang ditinggalkan, seperti orangutan, bekantan, beruang madu dan rusa sambar. Selain memiliki keanekeragaman jenis mamalia yang tinggi, TNK juga kaya akan berbagai jenis burung, termasuk burung enggang/rangkong. Areal hutan TNK sudah lama dikenal sebagai habitat utama burung enggang. Burung tersebut masih sering terlihat melintas di daerah wisata Sangkima dan Prevab.

Pasca kebakaran hebat tahun 1997 dan 1998, kegiatan pemantauan keanekaragaman hayati tetap berlanjut. Hasil dari kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ada sebagian jenis flora dan fauna TNK yang mampu bertahan dari gangguan kebakaran hutan. Berbagai jenis pohon dipterocarpaceae, anggrek, rotan, kantung semar, ulin dan pasak bumi merupakan sederetan tumbuh-tumbuhan yang masih bisa dijumpai. Yang lebih menarik lagi, TNK ternyata merupakan habitat dari beberapa jenis pohon dipterocarpaceae/dipterokarpa yang tergolong kritis (critically endangered species) dan genting (endangered species) menurut the International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Jenis-jenis pohon dipterokarpa yang tergolong hampir punah itu antara lain adalah Dipterocarpus cornutus, D. Gracilis, D. littoralis, D. validus, Hopea mengerawan, Shorea johorensis dan S. smithiana. Sedangkan Cotylelobium melanoxylon, Dryobalanops lanceolata, S. gratissima, S. leprosula, S. pauciflora termasuk jenis-jenis pohon dipterokarpa yang terancam punah (Lovadi, 2008). Selain tumbuhan, TNK juga merupakan rumah bagi beberapa mamalia dan reptil yang terancam punah, seperti orangutan, bekantan dan kura-kura baning coklat/kaki gajah (Manouria emys) (Lovadi et al, 2008). Khusus untuk kura-kura baning coklat, keberadaannya baru pertama kali dilaporkan sekitar bulan Juni 2007. Reptil yang memakan talas-talasan dan buah-buahan ini ditemukan pertama kali di daerah pedalaman Sangkima.

Hutan hujan tropis TNK juga menyediakan sejumlah jasa lingkungan yang sampai saat ini masih dapat kita nikmati. Jasa lingkungan yang disediakan oleh berbagai tipe ekosistem yang tersebar di TNK terdiri atas:

1. sumber air Sungai-sungai yang hulunya berada di hutan TNK telah banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan dan sejumlah perusahaan yang mengelilingi kawasan TNK. Sungai Sengata, Sungai Sangkima, Sungai Kandolo, Sungai Teluk Pandan, Sungai Palakan dan Sungai Santan termasuk beberapa sungai yang telah dimanfaatkan sebagai sumber air. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sengata, contohnya, menggunakan air Sungai Sengata sebagai sumber bahan baku air bersih untuk didistribusikan kepada ribuan warga Sengata.

2. penyuplai udara bersih Selain sebagai sumber air, hutan TNK juga merupakan pemasok utama udara bersih. Jasa lingkungan yang disediakan oleh hutan ini sering tidak diperhitungkan walaupun manfaatnya setiap detik kita rasakan. Tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan TNK memungkinkan penyerapan gas CO2 dan gas-gas polutan lain yang dihasilkan dari aktivitas manusia yang menggunakan bahan bakar fosil.

3. laboratorium raksasa untuk pengembangan ilmu pengetahuan Keunikan tipe-tipe ekosistem di TNK berikut komponen penyusunnya telah menarik perhatian para peneliti dan kalangan akademisi. Beberapa diantara mereka bahkan memilih untuk melakukan penelitian di TNK dalam rangka menyelesaikan program doktornya. Dr. Tonny Soehartono yang kini menjabat sebagai Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan, misalnya, pernah melakukan penelitian di daerah Mentoko untuk menyelesaikan disertasi program Doktornya di Edinburgh University (Inggris) yang berhubungan dengan konservasi tumbuhan gaharu (Aquilaria spp) di Indonesia. Selain itu, hutan di kawasan wisata TNK juga sering dikunjungi oleh siswa-siswi mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas yang berasal dari Bontang maupun Sengata untuk menggali ilmu pengetahuan tentang lingkungan hidup, konservasi dan keanekaragaman hayati hutan hujan tropis.

4. penyedia bahan obat-obatan alami Eksplorasi obat-obatan yang bersumber dari hutan mulai meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Hutan hujan tropis, khususnya, belum sepenuhnya dieksplorasi walaupun sesungguhnya menyimpan potensi bahan obat-obatan alami yang luar biasa. Pencarian bahan obat-obatan alami dari hutan hujan tropis seperti TNK memungkinkan penemuan obat baru bagi berbagai jenis penyakit. Salah satu tumbuhan di TNK yang telah diketahui berkhasiat sebagai obat antivirus HIV adalah bintangur atau nyamplung (Calophyllum inophyllum) (Dewi et al, 2007).

5. perlindungan terhadap keanekaragaman jenis untuk masa depan Seperti yang telah disampaikan di atas, TNK menyimpan kekayaan jenis flora fauna yang tinggi bahkan beberapa diantaranya tergolong hampir punah. TNK sebagai kawasan konservasi memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya atas ancaman kepunahan. Perubahan status kawasan menjadi areal dengan fungsi non-kehutanan dapat menyebabkan hilangnya berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang mungkin mengarah pada kepunahan jenis secara global.

6. tempat rekreasi TNK merupakan salah satu daerah tujuan wisata andalan bagi beberapa kota seperti Sengata dan Bontang. Kondisi hutan dan keberadaan satwa penting, seperti orangutan, di kawasan wisata alam Sangkima dan Prevab telah menarik perhatian pengunjung untuk datang. Di tahun 2008 ini paling tidak ada 81 orang wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TNK. Umumnya mereka berasal dari berbagai negara khususnya Eropa dan Australia.

Sebenarnya masih terdapat beberapa jasa lingkungan lainnya yang diberikan oleh hutan TNK, seperti penyerapan karbon dan pengaturan iklim global. Semua jasa lingkungan tersebut tetap tersedia dan masih dapat kita nikmati sampai detik ini karena hutan TNK masih tetap bertahan ditengah kepentingan berbagai pihak yang ingin mengeksploitasi semua potensi yang terkandung didalamnya. Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa hutan TNK sebenarnya telah memberikan banyak kontribusi bagi masyarakat baik pada tingkat lokal maupun regional melalui potensi keanekaragaman hayati yang tersimpan didalamnya dan jasa lingkungan yang disediakannya. Dengan berlandaskan kesimpulan ini, seharusnya kita sudah mampu menjawab pertanyaan tentang layak atau tidaknya TNK dipertahankan.

Setiap pilihan yang kita ambil sesungguhnya memiliki konsekuensi dan dampak yang nyata. Jika Anda memilih TNK untuk dialihfungsi menjadi kawasan non-kehutanan maka sesungguhnya keputusan yang dibuat tersebut akan memiliki dampak negatif yang sangat besar baik bagi lingkungan maupun manusia. Beberapa dampak negatif yang mungkin timbul, antara lain:

1. berbagai jenis flora fauna akan menuju kepunahan dengan lebih cepat karena TNK merupakan habitat bagi beberapa jenis tumbuhan dan satwa yang terancam punah. Generasi yang akan datang akan kesulitan untuk melihat tumbuh-tumbuhan dan satwa-satwa penting yang pernah ada di Indonesia,

2. masyarakat sekitar hutan dan perusahaan yang memanfaatkan sungai-sungai yang ada di TNK akan menghadapi masalah dengan ketersediaan air bersih. Pada tanggal 25 Agustus 2007 lalu, harian lokal Kaltim Post memberitakan bahwa penurunan debit air Sungai Sengata menyebabkan layanan air bersih bagi ribuan warga Sengata terganggu selama tiga minggu. Bayangkan kalau hutan tempat dimana hulu-hulu sungai itu berada habis ditebangi dan digantikan dengan pemukiman atau areal pertambangan!!! Mungkin ribuan warga Sengata akan menghadapi krisis air.

3. warga Sengata dan Bontang bahkan masyarakat internasional akan kehilangan salah satu obyek wisata alam andalan dan mungkin harus mengunjungi kawasan hutan alam yang cukup jauh jaraknya untuk berekreasi,

4. pelajar, mahasiswa dan kalangan akademisi baik lingkup Kalimantan Timur maupun nasional akan kehilangan tempat untuk menimba pendidikan lingkungan hidup dan mengembangkan ilmu pengetahuan,

5. kesempatan untuk mengeksplorasi bahan obat-obatan alami dari hutan TNK akan hilang seiring dengan berkurangnya luasan hutan, dan masih banyak lagi dampak negatif lainnya yang mungkin timbul. Sebaliknya, apabila kita bertekad dan berusaha sungguh-sungguh untuk tetap mempertahankan dan melestarikan hutan TNK maka akan banyak manfaat yang bisa kita peroleh sebagaimana yang telah disebutkan di awal tulisan ini. Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan kembali pesan dari Bapak Awang Faroek Ishak, Bupati Kutai Timur, untuk menjaga kelestarian kawasan hutan TNK. Ajakan ini beliau sampaikan pada saat membuka acara Kutai Wana Rally (KWR) pada hari Minggu, 1 Juli 2007 di Kawasan Wisata Sangkima dan diliput di harian lokal Kaltim Post yang terbit pada hari Selasa tanggal 3 Juli 2007.

DAFTAR PUSTAKA

DEWI, S. J. T., NISAA’ A.D., Z., KABANGNGA’, Y., BOIGA & RAHMAH (2007). Tumbuhan berkhasiat obat Taman Nasional Kutai, Bontang, Balai Taman Nasional Kutai.

DOI, T. (1988). Present status of the large mammals in the Kutai National Park, after a large scale fire in East Kalimantan, Indonesia. IN TAGAWA, H. & WIRAWAN, N. (Eds.) A research on the process of earlier recovery of tropical rainforest after a large scale fire in East Kalimantan, Indonesia. Kagoshima, Kagoshima University.

LOVADI, I. (2008). Jenis-jenis dipterokarpa yang terancam punah di Taman Nasional Kutai. Balai Taman Nasional Kutai.

LOVADI, I., SUMIDI, SUTRISMAN, A., NISAA’ A.D., Z., DJUMADI & ERWAN, A. (2008). Taman Nasional Kutai: Pesona hutan hujan tropis dataran rendah Kalimantan Timur, Bontang, Balai Taman Nasional Kutai.

MIYAGI, Y., TAGAWA, H., SUZUKI, E., WIRAWAN, N. & OKA, N. (1988).Phytosociological study on the vegetation of Kutai National Park, East Kalimantan, Indonesia. IN TAGAWA, H. & WIRAWAN, N. (Eds.) A research on the process of earlier recovery of tropical rainforest after a large scale fire in East Kalimantan, Indonesia. Kagoshima, Kagoshima University.

5 thoughts on “Taman Nasional Kutai, Layakkah Dipertahankan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s