Krisis Keanekaragaman Hayati dan Komitmen Kita

logo

Pontianakpost, Kamis, 18 Desember 2008

Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Departemen Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat minggu yang lalu mengadakan sosialisasi “pengenalan jenis tumbuhan dan satwa liar yang diperdagangkan” di hadapan instansi terkait, seperti petugas Karantina Pertanian, Bea Cukai, dan Kepolisian, di Pontianak. Pada kesempatan tersebut, Direktur KKH, Dr. Tonny Soehartono, dalam presentasinya menyampaikan bahwa negara kita telah memanfaatkan sumber daya alam hayati termasuk tumbuhan dan satwa liar. Pemanfaatan sumber daya alam hayati yang tidak lestari dan berkelanjutan memiliki konsekuensi yang serius. Tonny menambahkan bahwa beberapa tumbuhan dan satwa liar saat ini cukup sulit dijumpai di habitat alami mereka. Ikan arwana (Scleropages formosus) termasuk salah satu satwa dimaksud. Walaupun sampai saat ini sudah terdapat 83 penangkar ikan arwana yang terdaftar, beberapa tahun lalu perdagangan ikan arwana sebagian besar dipasok dari penangkapan di alam. Kondisi yang demikian memiliki pengaruh negatif yang nyata terhadap jumlah ikan arwana di habitatnya.

Sejumlah tumbuhan liar juga menghadapi permasalahan serupa. Pengambilan secara tidak sah kantong semar klipeata (Nepenthes clipeata) di Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kelam – Sintang, contohnya. Saat ini sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Kantong semar klipeata di TWA Bukit Kelam sudah lama menjadi target pengambilan dalam beberapa tahun terakhir karena nilai ekonominya yang tinggi di pasaran lokal dan nasional tanaman hias. Jika pengambilan ini terus berlanjut, kantong semar klipeata akan punah di habitat alaminya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ikan arwana dan kantong semar klipeata hanya dua contoh saja, sedangkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar lainnya sudah di ambang punah atau telah punah di alam. Orangutan merupakan salah satu satwa liar yang saat ini diambang kepunahan, sedangkan harimau jawa telah dinyatakan punah hampir 3 (tiga) dekade yang lalu.

Dari kejadian diatas, jelaslah bahwa banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengatasi pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yang tidak lestari. Pengelolaan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar bukanlah pekerjaan yang mudah. Paling tidak ada dua hal penting agar pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar dapat lestari dan berkelanjutan, yaitu komitmen dan kemauan untuk mengubah pemahaman dan prilaku. Dua hal diatas mudah dikatakan, namun kenyataannya cukup sulit untuk dilakukan. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang terkait pengawasan dan pengendalian pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar. Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (SDAH) dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 1999 termasuk beberapa peraturan yang mengatur pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar.

Komitmen pemerintah termasuk aparat petugas kehutanan, karantina pertanian, bea cukai dan kepolisian untuk menegakkan peraturan tersebut sangat diperlukan. Dan hal ini perlu dibuktikan dengan pencapaian yang baik. Selanjutnya, masyarakat juga diharapkan untuk mematuhi peraturan yang telah ditetapkan. Peraturan tersebut ditetapkan untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di Indonesia, dan bukanlah untuk menghalangi setiap orang untuk berusaha di bidang tumbuhan dan satwa liar. Konservasi sumber daya alam hayati sejatinya berkaitan dengan cara berpikir dan prilaku. Masyarakat akan berupaya untuk menyelamatkan tumbuhan dan satwa liar jika memiliki pengetahuan yang cukup tentang lingkungan dan kesadaran akan krisis keanekaragaman hayati yang sedang dihadapi. Akan tetapi, ini bukanlah proses yang sederhana.

Kondisi terkini pemahaman dan prilaku tentang konservasi masyarakat masih tergolong rendah. Perburuan, pengambilan dan perdagangan tidak sah terhadap tumbuhan dan satwa liar masih terjadi di beberapa propinsi. Harian Jakarta Post pada tanggal 26 Juni 2008 melaporkan bahwa harimau dan gajah Sumatera telah menjadi target para pemburu dan pedagang liar di beberapa wilayah di Sumatera. Untuk mengantisipasi hal ini, perubahan positif dari pemahaman dan prilaku tentang konservasi sangat diharapkan terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Krisis keanekaragaman hayati adalah masalah nasional yang seharusnya disikapi secara menyeluruh. Setiap langkah yang kita ambil untuk menyelamatkan potensi keanekaragaman hayati sangat penting. Kita pernah kehilangan satwa liar yang tak ternilai harganya, seperti harimau Jawa. Haruskah kita kehilangan tumbuhan dan satwa liar lainnya hanya karena kepentingan ekonomi dan kesenangan sesaat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s