KULTUR JARINGAN SEBAGAI SOLUSI KONSERVASI NEPENTHES SECARA EX-SITU*

*ditulis oleh Cahyadi Kurniawan (Juara I Lomba Esai Mahasiswa Se-Kalbar dengan tema Harapan dan Tantangan Konservasi Kantong Semar yang Terancam Punah)

Kantong semar (Nepenthes sp.) merupakan salah satu tumbuhan unik kebanggaan Indonesia. Keunikan Nepenthes berada pada kantongnya. Kantong dari Nepenthes memiliki ukuran, bentuk dan corak warna yang indah. Kantong tersebut dapat berfungsi sebagai perangkap bagi beberapa jenis binatang kecil dan serangga yang tertarik pada kelenjar madu di bawah penutup kantong. Alat penutup kantong letaknya miring dan memiliki lapisan kelenjar yang sangat licin, sehingga serangga dan binatang kecil lainnya akan jatuh dan masuk ke dalam kantong yang berisi cairan enzim proteolitik.

Nepenthes tumbuh dan tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian Selatan. Nepenthes hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, dan padang savana. Karakter dan sifat Nepenthes berbeda pada tiap habitat. Beberapa jenis Nepenthes yang hidup di hutan hujan tropik dataran rendah dan hutan pegunungan bersifat epifit.

Nepenthes termasuk tumbuhan langka yang dilindungi berdasarkan UU No 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Semua jenis Nephenthes masuk dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Spesies of Flora Fauna (CITES). Berdasarkan kriteria International Union of Conservation of Nature (IUCN) dan World Conservation Monitoring, Nepenthes digolongkan sebagai tumbuhan langka.

Potensi ancaman terhadap kelangsungan hidup Nepenthes lebih banyak berasal dari gangguan manusia. Aktivitas ilegal masyarakat di sekitar habitat alami dapat mengganggu keberadaan Nepenthes secara tidak langsung, seperti kegiatan penebangan pohon. Penebangan pohon menyebabkan Nepenthes tertimpa oleh pohon atau tercabut secara tidak sengaja. Pola pembukaan ladang dengan sistem sonor (dibakar) yang umum dilakukan masyarakat tradisional juga dapat mengganggu kehidupan Nepenthes di habitat alaminya. Pembukaan lahan atau konversi hutan dalam skala kecil atau besar dengan cara tradisional maupun modern yang dilakukan oleh masyarakat dan perusahaan juga mengancam keberadaan Nepenthes.

Ancaman terbaru yang belakangan ini terjadi adalah pengeksploitasian terhadap Nepenthes oleh masyarakat untuk kepentingan bisnis. Tumbuhan ini memiliki bentuk yang unik, sehingga mulai diperjualbelikan oleh masyarakat. Belakangan ini Nepenthes menjadi trend sebagai tumbuhan hias yang diburu para kolektor tumbuhan. Nepenthes yang dijual umumnya didapatkan langsung dari alam, bukan dari hasil penangkaran atau budidaya. Hal ini sangatlah memprihatinkan mengingat populasi beberapa jenis Nepenthes sangat rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya konservasi untuk mencegahnya dari kepunahan.

Eksploitasi Nepenthes dari alam untuk kepentingan ekonomi mengakibatkan kepunahan tumbuhan ini. Eksploitasi yang tidak memperhatikan kaidah ekologi konservasi tentu akan mempercepat kepunahan Nepenthes di habitat alaminya. Kepunahan satu jenis Nepenthes dapat terjadi dengan cepat saat tumbuhan tersebut menjadi salah satu trending topic di masyarakat. Ancaman tersebut dapat dicegah dengan cara pengembangan kultur jaringan Nepenthes sebagai upaya konservasi secara ex-situ.

Konservasi Nepenthes di Indonesia tidak bisa ditunda lagi. Keberadaan beberapa spesies Nepenthes sangat kritis. Sebagai contoh, salah satu spesies endemik Sintang Kalimantan Barat yang sangat diminati yaitu Nepenthes clipeata. N. clipeata termasuk dalam daftar merah IUCN 2009, yang bearti kritis atau terancam punah. Para kolektor rela merogoh saku dalam-dalam demi mendapatkan tumbuhan ini. Mendengar hal tersebut, masyarakat tentu saling berlomba mencari dan menjualnya demi mendapatkan keuntungan. Mereka tidak mau tahu dampak negatif yang akan terjadi.

Saat status Nepenthes clipeata dan jenis lainnya punah siapa yang harus disalahkan, apakah kolektor, masyarakat, atau pemerintah. Tanda tanya besar jika kita saling menyalahkan. Oleh karena itu program konservasi terhadap Nepenthes harus dijalankan saat ini juga, sebelum anak dan cucu kelak hanya melihat gambar tanpa mengetahui nikmatnya menyentuh tumbuhan kebanggaan Indonesia tersebut.

Masih ada harapan untuk kelestarian Nepenthes. Harapan ini tentu saja tidak hanya menjadi angan-angan jika semua pihak mau mendukung dan menjalankan program konservasi dengan sungguh-sungguh. Program konservasi Nepenthes tidak mudah, mengingat jenis tumbuhan ini sangat rentan terhadap fruktuasi lingkungan yang ekstrim.  Masalah tersebut dapat diatasi dengan teknik budidaya berbasis ilmiah. Penggunaan teknologi menjadi solusi di masa sekarang dan yang akan datang. Salah satunya yaitu menerapkan kultur jaringan sebagai metode konservasi Nepenthes secara ex-situ.

Konservasi ex-situ adalah metode konservasi terhadap makhluk hidup yang terancam punah. Metode ini dilakukan dengan cara melindungi spesies di luar distribusi alami dari populasi tetuanya. Konservasi secara ex-situ merupakan proses perlindungan spesies tumbuhan dan hewan langka dengan mengambilnya dari habitat yang tidak aman atau terancam dan menempatkannya di bawah perlindungan manusia. Perlindungan yang dilakukan berlandaskan asas ekologi konservasi.

Pelestarian keanekaragaman hayati secara ex-situ merupakan hal penting dalam strategi konservasi keanekaragaman hayati sebagaimana dicanangkan dalam Agenda 21 Indonesia Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) 1997. Dalam Agenda 21 disebutkan bahwa upaya pelestarian harus disertai dengan pemeliharaan sistem pengetahuan tradisional dan pengembangan sistem pemanfaatan keanekaragaman hayati yang dilandasi oleh pembagian keuntungan yang adil.

Konservasi ex-situ dilakukan dalam  upaya pengawetan spesies di luar kawasan. Upaya ini dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakan jenis tumbuhan Nepenthes. Kegiatan konservasi ex-situ dilakukan untuk menghindari adanya kepunahan beberapa jenis Nepenthes. Hal ini perlu dilakukan mengingat terjadi berbagai tekanan terhadap populasi maupun habitat Nepenthes di alam.

Nepenthes boleh diperdagangkan, asalkan yang diperdagangkan itu berasal dari hasil penangkaran, bukan dari pengambilan di habitat aslinya. Penangkaran tersebut dapat dilakukan dengan cara memperbanyak jumlah individu Nepenthes. Perbanyakan jumlah individu tersebut dapat dilakukan dengan cara kultur jaringan. Dengan melakukan kultur jaringan kita dapat mencegah kepunahan Nepenthes dan menghasilkan keuntungan secara ekonomi, karena hasil dari kultur tersebut bisa dijual. Contoh nyata yaitu Nepenthes adrianii. Nepenthes jenis tersebut sudah dikembangkan di Belanda dan Jerman. Kedua negara itu mengembangkan secara besar-besaran dengan teknik kultur jaringan. Bahkan kini sudah dijadikan bisnis yang menjanjikan.

Kultur jaringan sangat mudah untuk dilakukan. Kita hanya mengambil jaringan Nepenthes untuk memperbanyak jumlah individunya. Kemungkinan bertahan individu baru hasil dari kultur jaringan sangat besar, karena sifat anakan yang hampir menyerupai induknya. Metode kultur jaringan ini memungkinkan satu jenis Nepenthes dapat terhindar dari kepunahan karena jumlah individunya dapat diperbanyak.

Hasil dari kultur jaringan selanjutnya dapat dikembangkan di arboretum. Arboretum merupakan salah satu tempat pengembangan konservasi ex-situ konvensional yang dapat dilakukan. Fasilitas ini menyediakan tempat terlindung dari spesimen Nepenthes langka dan memiliki nilai pendidikan. Arboretum memberikan informasi bagi masyarakat mengenai status ancaman pada Nepenthes dan faktor-faktor yang menimbulkan ancaman kehidupan spesies.

Arboretum dapat dikatakan taman informasi untuk beberapa tumbuhan yang terancam punah. Arboretum biasanya ditanam berbagai jenis tumbuhan khas dari suatu daerah. Dengan adanya arboretum, informasi mengenai jenis-jenis Nepenthes mudah untuk diketahui.  Penyebarluasan informasi mengenai Nepenthes kepada masyarakat penting dijalankan agar mereka mengetahui keberadaan populasi, status jenis, dan status hukum yang melindungi tumbuhan dari kepunahan. Upaya ini harus disertai dengan disiplin tinggi dari penerapan hukum bagi ancaman-ancaman yang ada terhadap kelangsungan hidup Nepenthes.

Konservasi Nepenthes bukan hanya sekedar tantangan, melainkan keharusan disaat penanaman rumah beton merajalela di era globalisasi sekarang. Apakah kita harus tetap dalam kurungan egosentris humanisme atau mau mengalah demi memberikan sedikit ruang kepada bumi untuk bernapas. Nepenthes merupakan salah satu komponen ekologi yang memiliki fungsi dalam suatu ekosistem. Kepunahan tumbuhan ini tentunya mengganggu keseimbangan di alam.

Metode kultur jaringan merupakan solusi yang dapat dijalankan dalam upaya konservasi Nepenthes secara ex-situ. Dukungan dari berbagai pihak tentu sangat diperlukan untuk pengembangan metode tersebut. Dengan upaya konservasi yang berhasil maka para kolektor tumbuhan hias tetap bisa memenuhi ambisi, masyarakat menikmati keuntungan secara ekonomi, pemerintah tidak perlu repot mengurusi status kelangkaan, dan keberadaan Nepenthes tetap terjaga sehingga keseimbangan ekologi bertahan sebagaimana mestinya.

(Lomba Esai ini diselenggarakan pada bulan Agustus – September 2012 dan memperoleh dukungan finansial dari the Rufford Small Grant Foundation)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s