Lestarikan Kantong Semar

Pontianak Post, Jum’at 27 Januari 2012

SINTANG - Kantong semar, tanaman hutan yang mulai langka tergerus zaman. salah satu langkah agar tetap lestari adalah melalui budidaya. Untuk itu, Jurusan/Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura menyelenggarakan pelatihan budidaya kantong semar bagi masyarakat sekitar Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kelam, Sintang, belum lama ini.

Pelatihan budidaya kantong semar yang memperoleh dukungan pendanaan dari the Rufford Small Grant Foundation diikuti oleh 20 peserta yang sebagian besar adalah masyarakat khususnya generasi muda yang tinggal di sekitar TWA Bukit Kelam. TWA Bukit Kelam merupakan rumah bagi berbagai jenis kantong semar termasuk Nepenthes clipeata yang tergolong paling terancam punah di Kalimantan.

Kegiatan pelatihan yang digelar selama 2 hari ini menghadirkan 2 instruktur dari luar Program Studi Biologi, yaitu Husein Dwi Husainar (Pengendali Ekosistem Hutan pada Seksi Konservasi Wilayah II Sintang) dan Firwan Harisandy (penggiat budidaya kantong semar). Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi terkait teknik budidaya kantong semar tetapi juga materi konservasi dan tata usaha peredaran tumbuhan dan satwa liar.

Dalam laporannya, Irwan menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk implementasi salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pengabdian kepada Masyarakat dengan tema kegiatan yang berfokus pada pelestarian jenis-jenis kantong semar. Irwan menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program konservasi Nepenthes clipeata yang mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat. Hal senada juga disampaikan oleh Siti Khotimah dari Program Studi Biologi. “Upaya pelestarian kantong semar sangat diperlukan untuk mengantisipasi kepunahan jenis sebagai akibat dari pemanfaatan yang tidakberkelanjutan” imbuh dosen mikrobiologi ini.

Sebelum membuka acara pelatihan ini secara resmi, Camat Kelam Permai Ibu Hendrika berpesan kepada para peserta agar bersama-sama menjaga kelestarian kantong semar termasuk Nepenthes clipeata yang merupakan kebanggaan masyarakat kota Sintang. “Mudah-mudahan melalui kegiatan ini peserta dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh sehingga nantinya bisa melakukan upaya budidaya kantong semar sendiri” harapnya.

 

Nepenthes clipeata, Si Cantik yang Unik

Nepenthes clipeata memiliki keunikan yang khas yang tidak dimiliki oleh jenis-jenis kantong semar lainnya di Indonesia. Bentuk kantongnya pada bagian atas menyerupai corong sedangkan pada bagian bawah berbentuk seperti bola (Gambar 2). Tidak hanya itu, daunnya pun lebih lebar dan membulat, tidak seperti daun kantong semar pada umumnya (Gambar 3).

Gambar 2. Bentuk  organ kantong pada Nepenthes clipeata

Gambar 3. Bentuk daun pada Nepenthes clipeata

Keunikan lainnya dari Nepenthes clipeata adalah sifat endemisitasnya yang tinggi. Habitat alami kantong semar klipeata hanya terdapat di Bukit Kelam, Sintang Kalimantan Barat (Gambar 4). Upaya pencarian populasi baru kantong semar klipeata di luar Bukit Kelam sudah pernah dilakukan. Namun sampai saat ini populasi lain di luar Bukit Kelam belum juga ditemukan.

Gambar 4. Bukit Kelam di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

Selain itu, kantong semar klipeata tidak tumbuh di tanah. Lumut, seresah dan sisa-sisa tumbuhan lainnya yang terdapat di bagian tertentu dari dinding Bukit Kelam merupakan tempat tumbuh bagi kantong semar ini. Ketebalan tempat tumbuh kantong semar klipeata berkisar antara 5 – 10 cm.

Paling tidak ada empat jenis lumut yang menyediakan tempat tumbuh bagi Nepenthes clipeata. Sphagnum sp adalah salah satu jenis yang dominan sebagai tempat tumbuh kantong semar klipeata. Keempat jenis lumut tersebut, khususnya Sphagnum sp, memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan kantong semar klipeata. Selain menyediakan habitat bagi Nepenthes clipeata, lumut-lumut tersebut juga menjaga ketersediaan air dan nutrien melalui proses penyerapan dan penyimpanan.

Status Konservasi Nepenthes clipeata

 Berdasarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, Nepenthes clipeata termasuk jenis tumbuhan yang dilindungi. Penetapan status dilindungi ini karena beberapa karakteristik kantong semar klipeata telah memenuhi kriteria untuk digolongkan sebagai tumbuhan dilindungi. Populasi yang kecil, laju penurunan populasi yang tinggi, dan daerah penyebaran yang sangat terbatas adalah tiga kriteria yang membuat kantong semar klipeata layak untuk berstatus “dilindungi”.

The International Union for the Conservation of Nature, sebuah lembaga internasional yang menangani konservasi alam, memasukkan Nepenthes clipeata dalam Daftar Merah (Redlist)-nya sebagai tumbuhan yang berstatus terancam punah (critically endangered). Situasi ini didasari oleh fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa populasi kantong semar ini kecil dengan penyebaran yang sangat terbatas, dan rentan terhadap ancaman dan tekanan, seperti: pengambilan/pemungutan di alam dan kebakaran hutan.

Nepenthes clipeata termasuk jenis yang paling terancam punah di Pulau Borneo. Sayangnya, upaya konservasi kantong semar ini tergolong rendah dan belum cukup untuk melindungi kantong semar ini dari bayang-bayang kepunahan. Ini terbukti dari semakin sulitnya menjumpai Nepenthes clipeata di habitat alaminya.

Tidak hanya itu, kantong semar Nepenthes clipeata selama ini hanya dinilai dari nilai ekonomisnya belaka sedangkan nilai-nilai konservasinya belum mendapat perhatian yang layak. Usaha budidaya jenis kantong semar ini masih belum maksimal dan selama ini masih mengandalkan pengambilan atau pemungutan tidak sah di alam untuk memenuhi pasokan kebutuhan tanaman hias baik ditingkat lokal maupun regional.

Situasi yang disebutkan di atas, perlu segera mendapat perhatian serius dari semua pihak. Beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah kepunahan Nepenthes clipeata, antara lain:

  1. Menumbuhkembangkan rasa cinta  terhadap tumbuhan yang dilindungi yang kita miliki termasuk Nepenthes clipeata yang merupakan kebanggan masyarakat Kalimantan Barat;
  2. Tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak habitat alami Nepenthes clipeata;
  3. Tidak mengambil atau memungut Nepenthes clipeata di habitat alaminya;
  4. Menggalakkan usaha budidaya sehingga kebutuhan kantong semar ini sebagai tanaman hias dapat terpenuhi dan tidak lagi mengandalkan pengambilan di alam; dan
  5. berpartisipasi dalam kegiatan konservasi Nepenthes clipeata.

“Bersama kita selamatkan Nepenthes clipeata dari kepunahan”

Pengaruh Kondisi Lingkungan di Habitat Tepi Terhadap Tumbuhan dan Satwa*

PENDAHULUAN

Di negara berkembang terutama di daerah tropis, banyak kawasan hutan telah berubah fungsi menjadi daerah pertanian, perternakan, dan daerah pengembangan kota dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir ini. Kawasan hutan yang semulanya utuh menjadi terpisah-pisah bahkan terisolasi sehingga terbentuk kelompok-kelompok kecil kawasan hutan. Proses terbentuknya kelompok-kecil kawasan hutan tersebut dapat dikategorikan sebagai fragmentasi habitat (Wilcove et al. 1986). Sayangnya, proses berubahnya fungsi hutan ini juga dapat ditemui di beberapa hutan alami yang telah ditunjuk sebagai kawasan konservasi seperti taman nasional, suaka marga satwa dan cagar alam.

Di Indonesia, proses berubahnya fungsi hutan di dalam kawasan konservasi melalui berbagai macam bentuk, misalnya pembangunan jalan, peminjaman atau pelepasan kawasan. Perubahan kawasan hutan menjadi areal dengan fungsi non-kehutanan di dalam kawasan konservasi memiliki dampak yang nyata bagi struktur vegetasi dan komposisi tumbuhan yang ada. Jenis-jenis pohon yang berada tepat di daerah yang akan dirubah fungsinya akan hilang dan sebagai akibatnya struktur vegetasi dan komposisi tumbuhan pun berubah. Perubahan ini pada akhirnya akan membentuk habitat tepi (habitat edge) (Murcia, 1995) atau yang dulu lebih dikenal dengan istilah ekoton (Ries et al. 2004). Kondisi lingkungan di habitat tepi memiliki karakteristik yang berbeda dengan kondisi lingkungan di dalam hutan. Kondisi yang berbeda ini akan memiliki dampak ekologis terhadap tumbuhan, hewan maupun organisme lain. Dampak dari bertemunya dua kondisi lingkungan yang berbeda tersebut terhadap tumbuhan dan hewan dapat di sebut efek tepi (edge effect) (Murcia, 1995).

Melalui tulisan ini penulis memaparkan beberapa kemungkinan pengaruh dari kondisi lingkungan di habitat tepi terhadap tumbuhan dan satwa. Paparan yang disajikan dalam tulisan ini di kembangkan dengan pendekatan studi pustaka.

KONSEP EFEK TEPI DAN KONDISI LINGKUNGANNYA

Istilah efek tepi pertama kali digunakan oleh Leopold (1933) dalam Ries et al. (2004) untuk menggambarkan kecenderungan peningkatan keragaman jenis di lanskap yang tidak utuh. Dengan banyak penemuan terkini yang mengungkapkan berbagai bentuk respon tumbuhan dan hewan serta organisme lain terhadap kondisi lingkungan di habitat tepi, konsep efek tepi telah berkembang. Respon tumbuhan dan hewan tidak hanya menunjukkan kecenderungan peningkatan keragaman jenis tetapi juga menunjukkan penurunan atau tanpa perubahan (Ries et al. 2004). Berdasarkan kecenderungan tersebut, Ries et al. (2004) membagi respon organisme menjadi tiga kelompok: respon positif jika parameter yang diamati seperti: kelimpahan dan keragaman jenis meningkat di habitat tepi; respon negatif jika ada kecenderungan penurunan dari parameter di habitat tepi yang diamati; dan respon netral bila tidak ada perbedaan nilai dari parameter yang diamati baik di habitat tepi maupun di dalam hutan.

Habitat tepi terbentuk jika suatu wilayah kawasan hutan diubah fungsinya untu non-kehutanan, seperti: jalan atau areal pemukiman. Salah satu konsekuensi dari perubahan fungsi kawasan tersebut adalah perubahan kondisi lingkungan. Murcia (1995) menandaskan bahwa perubahan kondisi mikro lingkungan ini disebabkan oleh perubahan struktur komposisi dan vegetasi di habitat tepi. Sejumlah penelitian membuktikan efek tepi terhadap parameter lingkungan, seperti: intensitas cahaya, suhu udara, kelembapan udara dan tanah (Chen et al. 1993; Matlack, 1993; Young dan Mitchell 1994; Jose et al. 1996; Didham dan Lawton 1999; Davies-Colley et al. 2000; Dignan dan Bren 2003). Perbedaan intensitas cahaya dan suhu udara, pada khususnya, terjadi pada beberapa jarak dari tepi hutan, tergantung pada arah hadapan tepi hutan dan struktur vegetasi di habitat tepi (Murcia, 1995). Matlack (1993) membuktikan bahwa intensitas cahaya dan suhu udara berkurang seiring dengan bertambahnya jarak dari tepi hutan yang menghadap ke timur, barat dan selatan di hutan Pennsylvania dan Delaware, USA

Walaupun penelitian tersebut membuktikan pengaruh negatif tepi hutan terhadap parameter lingkungan, namun beberapa penelitian di daerah tropis menunjukkan hasil yang berbeda. Turton dan Freiburger (1997), misalnya, menemukan efek tepi yang tidak nyata terhadap kondisi mikro lingkungan di hutan tropis di Atherton Tableland, Australia. Penelitian lain oleh Camargo dan Kapos (1995) melaporkan kompleksitas efek tepi terhadap kelembaban tanah di hutan tropis Amazon. Murcia (1995) menyebutkan bahwa perbedaan hasil dan interpretasi dari penelitian efek tepi mungkin disebabkan oleh penerapan metodologi yang tidak seragam, perancangan percobaan yang tidak memadai dan kemungkinan adanya respon spesifik dari tiap lokasi penelitian.

PENGARUH KONDISI LINGKUNGAN DI HABITAT TEPI

Dampak ekologis kondisi lingkungan di habitat tepi terhadap tumbuhan dan hewan telah banyak diteliti sejak lama. Hasil kajian dari para pakar menunjukkan temuan yang berbeda-beda. Pada umumnya, respon tumbuhan dan hewan terbagi menjadi tiga golongan: positif, netral dan negatif. Murcia (1995) berpendapat bahwa variasi respon ini mungkin sebabkan oleh beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, seperti: penggunaan metodologi yang tidak sama.

Walaupun ada kemungkinan pengaruh positif dari habitat tepi, Primack (2004) menyebutkan bahwa organisme yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan di habitat tepi memiliki kemungkinan untuk punah. Penelitian pada tumbuhan, menunjukkan penurunan kelimpahan jenis pohon yang memiliki diameter batang yang besar di hutan semi-arid Argentina (Casenave et al. 1995). Hylander (2005) dalam penelitiannya juga menemukan bukti penurunan tingkat pertumbuhan lumut (Bryophyta) yang ditumbuhkan di dalam pot yang diletakkan pada beberapa jarak dari tepi hutan boreal di Swedia. Efek tepi juga memiliki pengaruh negatif terhadap perkembangan dan kemelimpahan biji tumbuhan herba Trillium camschatcense Ker Gawler di salah satu hutan di Hokaido, Jepang (Tomimatsu dan Ohara 2004). Selain ketiga penelitian tersebut, Cadenasso dan Pickett (2000) melaporkan kecenderungan kerusakan anakan pohon akibat herbivori (aktivitas satwa yang memakan bagian tumbuhan) di tepi hutan di New York, USA.

Dampak negatif serupa juga dijumpai pada hewan. Kajian tentang efek tepi terhadap herpetofauna (reptil and amfibi) di Madagaskar menunjukkan bahwa kelompok hewan tersebut terpengaruh oleh perubahan kondisi lingkungan di habitat tepi (Lehtinen et al. 2003). Lehtinen et al. (2003) menyebutkan bahwa sensitifitas jenis hewan tertentu terhadap kondisi lingkungan di habitat tepi memiliki hubungan dengan ancaman kepunahan jenis hewan tersebut. Penelitian lain di Uganda melaporkan tingginya kerusakan lahan pertanian yang berbatasan dengan tepi hutan akibat aktivitas monyet liar (Saj et al. 2001).

IMPLIKASI TERHADAP KONSERVASI

Mengingat dampak dari terbentuknya habitat tepi, ada dua pilihan strategi yang harus diambil untuk menjaga keanekaragaman hayati di habitat yang mengalami fragmentasi (Matlack dan Litvaitis 1999). Pertama, pengelola kawasan konservasi tidak mengijinkan perubahan dalam bentuk apapun terhadap kawasan konservasi. Langkah ini akan melindungi semua jenis tumbuhan dan hewan yang ada. Kedua, kebijakan dalam penetapan perubahan status kawasan hutan harus mengikuti prosedur yang ketat dengan mempertimbangkan segala kemungkinan dampak negatifnya terhadap ekosistem yang ada di dalam hutan. Walaupun pilihan kedua ini mungkin dilakukan, penulis tidak menganjurkan penerapan strategi ini. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan kesulitan bagi pengelola kawasan konservasi untuk mengantisipasi pengaruh negatif lain yang dipicu oleh perubahan status kawasan hutan di dalam kawasan konservasi, misalnya memberikan akses jalan bagi pemburu, perambah hutan atau penebang liar.

Paling tidak ada dua hal yang harus dipertimbangkan jika strategi kedua ingin diterapkan. Pertama, pembentukan fragmen hutan (kelompok tutupan hutan yang dipisahkan oleh suatu wilayah yang tidak berhutan, seperti jalan, daerah pemukiman, dll.) yang berukuran kecil harus dihindari. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan bertambahnya intensitas dari efek tepi terhadap tumbuhan dan hewan, dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya habitat bagi jenis tumbuhan dan hewan yang sensitif terhadap kondisi lingkungan di habitat tepi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara luas fragmen hutan dengan keanekaragaman dan kelimpahan jenis tumbuhan (Benitez-Malvido dan Martinez-Ramos 2003; Zartman 2003) dan hewan (Rogo dan Odulaja 2001; Harcourt dan Doherty 2005). Seberapa kecil fragmen hutan yang dapat menunjang keanekaragaman hayati tergantung jenis tumbuhan atau hewan yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Penelitian oleh Zartman (2003) membuktikan bahwa fragmen hutan yang kurang dari 10 hektar berpengaruh negatif terhadap kemelimpahan jenis lumut epifil (tumbuh di daun) dibandingkan fragmen hutan yang berukuran 100 hektar.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penetapan perubahan status hutan di dalam kawasan konservasi adalah bentuk dari fragmen hutan yang tersisa. Williams dan Pearson (1997) membuktikan adanya pengaruh bentuk fragmen hutan terhadap vertebrata (hewan bertulang belakang) endemik di bioregion Wet Tropics, Australia. Pengaruh bentuk ini terjadi jika fragmen hutan memiliki bentuk yang tidak beraturan dan daerah yang tidak terkena efek tepi berukuran kecil.

KESIMPULAN DAN SARAN

Luas tutupan hutan di daerah tropis semakin berkurang tiap tahunnya. Sayangnya, proses ini juga terjadi di kawasan konservasi seperti taman nasional, suaka marga satwa dan cagar alam. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan pembentukan habitat tepi. Kondisi lingkungan di habitat tepi, seperti peningkatan intensitas cahaya dan penurunan kelembapan udara, akan mempengaruhi jenis tumbuhan dan hewan yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan tersebut. Dikarenakan adanya kemungkinan dampak negatif perubahan kondisi lingkungan di habitat tepi, pengelola kawasan konservasi perlu mempertimbangkan beberapa hal, seperti perubahan bentuk fragmen hutan dan luasan minimum untuk fragmen hutan guna mengantisipasi dampak negatif tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Benitez-Malvido, J. and M. Martinez-Ramos. 2003. “Impact of forest fragmentation on understory plant species richness in Amazonia.” Conservation Biology 17: 389-400.

Cadenasso, M. L. and S. T. A. Pickett. 2000. “Lingking forest edge structure to edge function: mediation of herbivore damage.” Journal of Ecology 88: 31-44.

Camargo, J. L. C. and V. Kapos. 1995. “Complex edge effects on soil moisture and microclimate in central Amazonian forest.” Journal of Tropical Ecology 11: 205-221.

Casenave, J., J. Pelotto and J. Protomastro. 1995. “Edge-interior differences in vegetation structure and composition in a Chaco semi-arid forest, Argentina.” Forest Ecology and Management 72: 61-69.

Chen, J., J. F. Franklin and T. A. Spies. 1993. “Contrasting microclimates among clearcut, edge, and interior of old-growth Douglas-fir forest.” Agricultural and Forest Meteorology 63: 219-237.

Davies-Colley, R. J., G. W. Payne and M. van Elswijk. 2000. “Microclimate gradient across a forest edge ” New Zealand Journal of Ecology 24(2): 111-121.

Didham, R. K. and J. H. Lawton. 1999. “Edge structure determines the magnitude of changes in microclimate and vegetation structure in tropical forest fragments.” Biotropica 31(1): 17-30.

Dignan, P. and L. Bren. 2003. “Modelling light penetration edge effects for stream buffer design in mountain ash forest in southern Australia.” Forest Ecology and Management 179: 95-106.

Harcourt, A. H. and D. A. Doherty. 2005. “Species–area relationships of primates in tropical forest fragments: a global analysis.” Journal of Applied Ecology 42: 630-637.

Hylander, K. 2005. “Aspect modifies the magnitude of edge effects on bryophyte growth in boreal forests.” Journal of Applied Ecology 42: 518-525.

Jose, S., A. R. Gillespie, S. J. George and B. M. Kumar. 1996. “Vegetation responses along edge-to-interior gradients in a high altitude tropical forest in peninsular India.” Forest Ecology and Management 87: 51-62.

Laurance, W. F. and E. Yensen. 1991. “Predicting the impacts of edge effects in fragmented habitats.” Biological Conservation 55: 77-92.

Lehtinen, R. M., J.-B. Ramanamanjato and J. G. Raveloarison. 2003. “Edge effects and extinction proneness in a herpetofauna from Madagascar.” Biodiversity and Conservation 12: 1357-1370.

Matlack, G. R. 1993. “Microenvironment variation within and among forst edge sites in the eastern United States.” Biological Conservation 66: 185-194.

Matlack, G. R. and J. A. Litvaitis. 1999. Forest edges. Maintaining biodiversity in forest ecosystems. M. L. Hunter. Cambridge, Cambridge University Press: 210-233.

Murcia, C. 1995. “Edge effects in fragmented forests: implications for conservation.” Trends in Ecology and Evolution 10: 58-62.

Primack, R. B. 2004. A primer of conservation biology. Sunderland, U.S.A, Sinauer Associates, Inc.

Ries, L., R. J. Flethcher, J. Battin and T. D. Sisk. 2004. “Ecological responses to habitat edges: Mechanisms, models, and variability explained.” Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics 35: 491-522.

Rogo, L. and A. Odulaja. 2001. “Butterfly populations in two forest fragments at the Kenya coast.” African Journal of Ecology 39: 266-275.

Saj, T. L., P. Sicotte and J. D. Paterson. 2001. “The conflict between vervet monkeys and farmers at the forest edge in Entebbe, Uganda.” African Journal of Ecology 39: 195-199.

Tomimatsu, H. and M. Ohara. 2004. “Edge effects on recruitment of Trillium camschatcense in small forest fragments.” Biological Conservation 117: 509-519.

Turton, S. M. and H. J. Freiburger. 1997. Edge and aspect effects on the microclimate of a small tropical forest remnant on the Atherton Tableland, Northeastern Australia. Tropical forest remnants: ecology, management and conservation of fragmented communities. W. F. Laurance and R. O. Bierregaard. Chicago, The University of Chicago Press: 45-54.

Wilcove, D. S., C. H. McLellan and A. P. Dobson. 1986. Habitat fragmentation in the temperate zone. Conservation Biology. M. Soul´e. Sunderland, MA, Sinauer: 237–56.

Williams, S. E. and R. G. Pearson. 1997. “Historical rainforest contractions, localized extinctions and patterns of vertebrate endemism in the rainforests of Australia’s wet tropics.” Proceeding Royal Society London B 264: 709-716.

Young, A. and N. Mitchell. 1994. “Microclimate and vegetation edge effects in a fragmented podocarp-broadleaf forest in New Zealand.” Biological Conservation 67: 63-72.

Zartman, C. E. 2003. “Habitat fragmentation impacts on epiphyllous bryophyte communities in central Amazonia.” Ecology 84: 948-954.

* Tulisan ini telah dimuat di Wana Tropika Volume 4 No. 1/September 2010 (Warta Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan)

Activities of Clipeata Project Phase I

Clipeata project, funded by the Rufford Small Grant, started in 2010 under the project name: Conservation of critically endangered Nepenthes clipeata on Mt. Kelam, West Kalimantan. The Clipeata Project Phase I consists of several activities, namely measuring wild population of N. clipeata, conducting village meeting, school visit and disseminating campaign materials. Please visit http://www.ruffordsmallgrants.org/rsg/projects/irwan_lovadi for further information on the project.

The project activities were conducted by forestry specialists (PEH) and staff of Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (Agency of Nature Conservation in West Kalimantan).

Clipeata Team observed N. clipeata on Mt. Kelam

Forestry specialists of Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat conducted school visit programs around Mt. Kelam

Village meeting for indigenous people near Mt. Kelam

Poster of N. clipeata on notice board at a school near Mt. Kelam

Clipeata Team

In 2010, I received the first Rufford Small Grant (RSG) for a project on “conservation of critically endangered Nepenthes clipeata on Mt. Kelam, West Kalimantan, Indonesia”.  The main activity of the project was measuring wild population of N. clipeata on Mt. Kelam. To complete the work, my fellow forestry specialist Husein Dwi Husainar and I formed a group of young and enthusiastic people in saving the carnivorous plant N. clipeata. We called the group “Clipeata Team”. Members of the group are Husein Dwi Husainar, Doni Mahyudi Erpah, Singlum, Suhendri, Zulkarnain, Gustamansyah and Hendra Deni. Members of Clipeata Team are currently working for Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (Agency of Nature Conservation in West Kalimantan).

Clipeata Team has carried out wild population counting of N. clipeata at ….. to …. m above sea level in 2010. We also collected data on distribution of N. clipeata on cliff faces, substrate and flower status. Census showed that there are 260 individuals dispersed in 45 coordinates. All natural hybrids of N. clipeata were excluded on counting.

Clipeata Team (Suhendri, Singlum, Zulkarnain, Husein Dwi Husainar, Irwan Lovadi, Doni Mahyudi Erpah, Gustamansyah and Hendra Deni – from the left to right)

 

Clipeata Team encountered N. clipeata on Mt. Kelam

 

Hard terrain limits the work of Clipeata Team on Mt. Kelam

 

Clipeata Team took a number of images of N. clipeata on Mt. Kelam. Some of them are used in campaign materials (e.g. standing banners, flyers, calendar, and stickers) during the first RSG project as well as the second RSG project of N. clipeata.

Membangun Apresiasi terhadap Keanekaragaman Hayati

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendeklarasikan tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati dimana “biodiversity is life, biodiversity is our life” menjadi tema yang diusung. Pendeklarasian tersebut menandai keseriusan dunia untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati dari kepunahan. Pencanangan tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati memiliki nilai yang sangat penting bagi Indonesia. Hal ini karena Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia. Tidak hanya itu, tingkat endemisitas keanekaragaman hayati di Indonesia juga tergolong tinggi di dunia. Penyebaran habitat alami kantong semar Nepenthes clipeata, misalnya, hanya terbatas di Kota Sintang, Kalimantan Barat. Keberadaan harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di hutan hujan tropis Sumatera juga menunjukkan bahwa beberapa fauna di Indonesia memiliki karakteristik endemisitas yang tinggi. Meskipun demikian, keanekaragaman hayati di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir semakin terancam keberadaannya. Tingginya laju deforestasi yang dibarengi dengan pemungutan, perburuan dan perdagangan tidak sah tumbuhan dan satwa liar telah membuat populasi jenis tumbuhan dan satwa liar tertentu semakin merosot, dan bahkan ada yang berada di ambang kepunahan.

Keberadaan keanekaragaman hayati di Indonesia seringkali hanya dilihat dalam perspektif ekonomi saja, sedangkan nilai-nilai lain termasuk nilai konservasinya belum sepenuhnya mendapat perhatian. Situasi tersebut akhirnya memicu pemikiran singkat untuk memanfaatkan semaksimal mungkin keanekaragaman hayati yang dimiliki untuk meraup penghasilan yang tinggi tanpa memperhitungkan prinsip-prinsip keberlanjutan. Akibatnya sudah tentu dapat kita prediksi. Jika kemampuan reproduksi suatu jenis satwa liar tergolong rendah dan tidak sebanding dengan tingginya pemanfaatan langsung yang diperoleh dari alam, sudah dapat dipastikan ancaman kepunahan akan membayangi satwa liar tersebut. Konsep ini juga berlaku untuk tumbuhan liar maupun organisme lainnya yang juga merupakan komponen penting dalam keanekaragaman hayati. Fakta yang disebutkan di atas merupakan manifestasi dari kegagalan dalam melihat nilai konservasi yang terkandung di dalam keanekaragaman hayati. Kegagalan ini lahir dari rendahnya apresiasi terhadap nilai dan peran keanekaragaman hayati dalam kehidupan manusia.

Keanekaragaman hayati sesungguhnya memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana yang tersurat dalam tema Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati di atas: “biodiversity is our life”. Nasi dan roti yang kita konsumsi, misalnya, bersumber dari bahan-bahan yang diperoleh dari tanaman yang dahulunya merupakan tumbuhan liar di hutan. Berbagai jenis ikan konsumsi, baik yang didapat dari sungai maupun laut, juga memperkaya asupan makanan yang kita nikmati sehari-hari. Peran satwa liar dalam kehidupan manusia pun begitu nyata. Burung dan lebah, contohnya, terlibat dalam penyerbukan tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit dan kopi. Sayangnya, nilai dan peran keanekaragaman hayati dalam kehidupan manusia sering dianggap tidak penting. Kenyataan bahwa keanekaragaman hayati adalah milik publik yang perlu dipertahankan keberadaannya bagi keberlanjutan umat manusia juga terkadang tidak diperdulikan.

Kegagalan dalam melihat nilai-nilai keanekaragaman hayati dalam berbagai perspektif termasuk nilai konservasinya sesungguhnya dapat diantisipasi sejak dini. Peran dunia pendidikan dalam menanamkan nilai penting keanekaragaman hayati merupakan salah satu pendekatan yang mungkin dilakukan. Pendidikan dalam konteks ini sebaiknya tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah namun juga dimulai dari dalam keluarga dan masyarakat. Pengenalan berbagai jenis tumbuhan dan satwa kepada anak-anak yang dimulai sejak dini diharapkan dapat membangun kesadaran dan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai keanekaragaman hayati termasuk fakta bahwa keanekaragaman hayati adalah milik publik yang harus dipertahankan. Selain itu, peran tokoh dan pemuka agama dalam menyiarkan konservasi dalam perspektif agama juga tidak kalah pentingnya. Di dalam ajaran Islam, misalnya, manusia adalah khalifah atau pemimpin yang berperan untuk menjaga ciptaan-ciptaan Allah karena kemampuan yang umat manusia miliki, seperti kemampuan berpikir. Larangan untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi juga merupakan bagian penting dari ajaran Islam terkait konservasi.

Keberadaan berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar serta organisme lainnya memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia. Jika kita hanya mementingkan sisi pemanfaatannya saja dan tidak memperdulikan fakta bahwa kekayaan hayati yang ada bersifat terbatas dan milik publik, bukan tidak mungkin keanekaragaman hayati yang kita miliki akan jatuh ke jurang kepunahan. Hanya manusia yang dapat menolong bumi dan seisinya dari kerusakan dan kepunahan.

Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati

SALAH satu isu penting yang mendapat perhatian dunia saat ini adalah kerusakan lingkungan yang berpotensi menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Tingginya tingkat deforestasi khususnya pada daerah dataran rendah adalah salah satu contoh nyata dari kerusakan lingkungan tersebut. Deforestasi yang mencapai tingkat mengkhawatirkan sangat mengancam keberadaan keanekaragaman hayati yang merupakan satu kesatuan yang utuh dari suatu ekosistem. Para ahli ekologi dan biologi konservasi telah membuktikan bahwa setiap komponen hayati dalam suatu ekosistem (misalnya: hutan hujan tropis) memiliki peran yang vital dan saling berhubungan dengan komponen lainnya di dalam ekosistem tersebut. Orangutan, misalnya, berperan dalam mempertahankan keutuhan ekosistem hutan hujan tropis sebagai agen penyebar biji. Berbagai jenis tumbuhan juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam suatu ekosistem. Menyediakan habitat penting bagi jenis-jenis burung air dan tempat perkembangbiakan ikan merupakan sebagian peran tumbuhan bakau dalam ekosistem mangrove.

Berbagai strategi konservasi telah diadopsi untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati. Salah satunya adalah penetapan kawasan hutan sebagai kawasan konservasi atau kawasan lindung. Prof. Navjot S.Sodhi dan koleganya Prof. Barry W Brook dan Prof. Corey J.A. Bradshaw dalam buku mereka “Tropical Conservation Biology” bahkan menegaskan bahwa pembentukan kawasan konservasi atau kawasan lindung merupakan sebuah harapan besar bagi konservasi keanekaragaman hayati.

Pemerintah Indonesia telah menunjuk dan menetapkan sejumlah kawasan hutan sebagai kawasan konservasi (contoh: taman nasional, cagar alam, taman wisata alam) dan hutan lindung. Penunjukan dan penetapan kawasan hutan sebagai kawasan konservasi dan hutan lindung tersebut telah mempertimbangkan berbagai faktor termasuk karakteristik dari masing-masing areal berhutan, seperti keterwakilan berbagai ekosistem, keberadaan satwa dan tumbuhan liar tertentu yang terancam punah dan bentang alam yang menakjubkan. Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), misalnya, menyimpan potensi beberapa jenis satwa yang terancam punah (contoh: orangutan dan tarsius) dan ratusan sungai kecil dan besar yang berperan penting dalam sistem hidrologi di Kalimantan Barat. Contoh lainnya adalah Cagar Alam Muara Kendawangan yang terletak di bagian selatan Provinsi Kalimantan Barat. Cagar alam ini memiliki perwakilan ekosistem mangrove dan hutan hujan dataran rendah serta merupakan habitat penting untuk bekantan, salah satu jenis primata yang dilindungi oleh undang-undang.

Sayangnya, walaupun menyandang status kawasan lindung, kawasan konservasi atau hutan lindung tidak lepas dari berbagai ancaman yang dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Fenomena penebangan, perambahan dan penambangan liar di dalam taman nasional merupakan contoh yang sangat nyata, dan sering dihadapi oleh pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung. Situasi yang dihadapi oleh pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung tersebut sudah selayaknya mendapat perhatian serius dari semua pihak termasuk pengelola kawasan itu sendiri, pemerintah daerah, organisasi yang bergerak di bidang konservasi alam dan masyarakat sekitar hutan. Hal ini sangat penting karena dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari kerusakan yang terjadi di dalam kawasan konservasi atau hutan lindung tidak hanya bersifat lokal namun berdampak global. Punahnya jenis-jenis endemik tertentu, berkembangnya krisis pangan dan air, serta terganggunya kehidupan sebagian masyarakat yang bergantung kepada keberlanjutan kawasan hutan merupakan sebagian kecil kerugian yang mungkin kita hadapi dimasa yang akan datang jika kawasan konservasi atau hutan lindung tidak kita pertahankan keutuhannya.

Kolaborasi semua pihak dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung mempunyai nilai yang strategis. Situasi tersebut memungkinkan pengelola kawasan konservasi atau hutan lindung untuk menyelesaikan permasalahan secara terpadu. Akan tetapi, kerjasama yang dibangun tersebut bukan lah proses yang sederhana. Komitmen yang kuat dan kesadaran semua pihak untuk mempertahankan keanekaragaman hayati merupakan pondasi yang dibutuhkan untuk membangun kerjasama tersebut.

Keanekaragaman hayati yang kita miliki telah memberikan kontribusi yang nyata dalam kehidupan kita. Terjaminnya ketersediaan air, sumber plasma nutfah yang penting bagi ketahanan pangan, bank tumbuhan yang berkhasiat obat merupakan sebagian kontribusi sumber daya alam hayati yang dapat kita rasakan. Keberadaan kawasan konservasi dan hutan lindung memiliki fungsi yang fundamental dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, mempertahankan keutuhan kawasan konservasi dan hutan lindung menjadi sangat penting bagi penyelamatan keanekaragaman hayati. Kawasan konservasi dan hutan lindung merupakan “benteng terakhir” bagi semua komponen keanekaragaman hayati untuk berlindung dari kerasnya deru kerusakan lingkungan.

Clipeata Project

My colleagues and have carried out complete population counting of N. clipeata at 749 to 874 m above sea level, and collected data on distribution of N. clipeata on cliff faces, substrate and flower status. The project was supported by the Rufford Small Grant Foundation (RSGF) in 2010.

Census showed that there are 260 plants dispersed in 45 coordinates. The figure is higher than previous estimation by M. Jebb mentioning that there were only 15 plants left on Mt Kelam in 1995. Most plants encountered during the census are unreachable plants, and found at the altitudes ranging from xxx to xxx above sea level (altitudes removed). We also observed that several plants produce flowers, and most of them are male. We only found one coordinate where both male and female plants grow together.

We also conducted school visit and village meeting programs. Most students were enthusiastic attending the programme. During the activities, we disseminated campaign materials to the students (e.g. keyrings and t-shirts). Posters of the project were attached to school’s notice boards. During the village meeting program, We delivered talks about conservation in general and conservation of N. clipeata on Mt. Kelam. Discussion between participants and speakers during the meetings were recorded to see how local people response to current conservation status of N. clipeata. We distributed campaign materials to the participants (e.g. keyrings, flyers, posters and t-shirts) as well.

I have applied for the Second Rufford Small Grant for a project entitled “promoting the conservation of critically endangered Nepenthes clipeata in West Kalimantan. I do hope that the RSGF could support my proposed project to save N. clipeata from extinction.

Tumbuhan Dilindungi Khas Kalimantan Barat

logo

Pontianak Post, Senin 27 Juli 2009

Tahukah Anda bahwa Provinsi Kalimantan Barat merupakan “rumah” bagi berbagai jenis tumbuhan liar yang tergolong dilindungi oleh pemerintah? Beberapa jenis tumbuhan dilindungi yang mungkin pernah Anda jumpai, antara lain: anggrek tebu atau macan (Grammatophylum speciosum), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek ekor tikus (Paraphalaenopsis denevei), kantong semar (Nepenthes spp), dan Rafflesia (Rafflesia sp). Jenis tumbuhan yang disebutkan di atas berstatus dilindungi karena memiliki wilayah penyebaran yang terbatas dan jumlah individu (populasi) di alam yang tergolong rendah. Kantong semar klipeata (Nepenthes clipeata), misalnya, hanya dapat dijumpai di Kabupaten Sintang dengan populasi yang sangat rendah dan terancam punah. Populasi alami anggrek ekor tikus yang berasal dari Kabupaten Sintang juga memiliki kondisi serupa.

Dengan menyandang status dilindungi ini, jenis-jenis tumbuhan yang disebutkan terdahulu tidak diperkenankan untuk diangkut, dipelihara dan diperniagakan sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Walaupun demikian, para pecinta tanaman hias masih mungkin untuk mengkoleksi tumbuhan dilindungi jika tumbuhan tersebut merupakan hasil budidaya yang mendapatkan izin dari Departemen Kehutanan. Informasi lengkap tentang perijinan budidaya tumbuhan dilindungi dapat diperoleh di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Barat di Jl. A. Yani No. 121 Pontianak atau kantor-kantor KSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, SKW II Sintang dan SKW III Singkawang.

Selamatkan tumbuhan khas Kalbar

logo

Pontianak Post, Rabu 29 April 2009

Provinsi Kalimantan Barat menyimpan keanekaragaman jenis tumbuhan yang unik dan mengagumkan. Pemerintah melalui PP Nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa telah menetapkan sebagian jenis-jenis tumbuhan liar yang ada di Kalimantan Barat sebagai tumbuhan dilindungi. Beberapa jenis-jenis tumbuhan dilindungi tersebut, antara lain: anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek ekor tikus (Paraphalaenopsis serpentilingua), semua jenis kantong semar (Nepenthes spp) dan Rafflesia (Rafflesia spp). Dengan ditetapkannya jenis-jenis tumbuhan di atas sebagai tumbuhan dilindungi, segala bentuk pemanfaatan baik untuk tujuan non-komersil maupun komersil harus tunduk pada peraturan yang berlaku seperti UU Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan PP Nomor 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.

Jenis-jenis tumbuhan dilindungi khas Kalimantan Barat saat ini menghadapi ancaman serius termasuk pengambilan tidak sah di alam. Semua jenis kantong semar (Nepenthes spp), anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek ekor tikus (Paraphalaenopsis serpentilingua) termasuk jenis-jenis tumbuhan dimaksud. Jika pengambilan tidak sah itu dibiarkan terus menerus dan tidak ada upaya untuk melakukan budidaya, tumbuhan dilindungi tersebut akan punah dari habitat alaminya. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga kelestarian tumbuhan dilindungi khas Kalimantan Barat. Kepedulian Anda dapat diwujudkan dengan tidak lagi mengambil jenis tumbuhan liar di atas pada kawasan konservasi seperti taman nasional, cagar alam dan taman wisata alam. Mari kita selamatkan tumbuhan dilindungi khas Kalimantan Barat dari kepunahan!